BerandaDAERAHDinsos Lima Puluh Kota Perkuat Kesiapsiagaan, Warga Tak Boleh Hanya Menunggu Bantuan

Dinsos Lima Puluh Kota Perkuat Kesiapsiagaan, Warga Tak Boleh Hanya Menunggu Bantuan

Lima Puluh Kota | mikanews — Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Lima Puluh Kota memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana. Warga didorong tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi mampu mengenali bahaya, menyelamatkan diri, dan membantu orang lain ketika bencana terjadi.

Langkah tersebut dilakukan Dinsos karena Kabupaten Lima Puluh Kota menghadapi berbagai risiko bencana, mulai dari banjir, longsor, kebakaran permukiman hingga angin kencang.

Salah satu peristiwa yang menjadi perhatian Dinsos terjadi di Jorong Sopang, Nagari Pangkalan. Angin kencang dalam peristiwa tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia.

Dinas Sosial (Dinsos) menilai penanganan bencana tidak boleh baru dimulai setelah musibah terjadi. Kesiapsiagaan dan pengurangan risiko harus dilakukan sejak sebelum bencana datang.

Untuk memperkuat upaya tersebut, Dinsos  bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah nagari, TNI, Polri, Badan Amil Zakat Nasional, Taruna Siaga Bencana (TAGANA), relawan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Salah satu program yang terus didorong adalah pembentukan dan penguatan Kampung Siaga Bencana (KSB) di wilayah yang berpotensi terdampak.

Melalui KSB, masyarakat diberikan pemahaman mengenai mitigasi risiko, prosedur evakuasi, pertolongan pertama, pendataan kelompok rentan, serta cara berkoordinasi dengan pihak berwenang.

Tujuannya jelas. Ketika bencana terjadi, masyarakat diharapkan mampu mengambil langkah penyelamatan secara mandiri dan saling membantu sebelum bantuan dari luar tiba.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lima Puluh Kota, Ir. Indra Suriani, menegaskan kesiapsiagaan masyarakat merupakan investasi jangka panjang.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan saat bencana terjadi. Mereka harus mampu mengenali ancaman, menyelamatkan diri sendiri, dan membantu lingkungan sekitar. Kampung Siaga Bencana adalah cara kami menanamkan budaya siaga di tengah masyarakat,” ujar Indra.

Selain membangun kesiapsiagaan, Dinas Sosial juga menyusun dan memperbarui data kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus ketika terjadi bencana.

Kelompok tersebut meliputi lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, anak-anak, serta keluarga kurang mampu.

Data tersebut menjadi dasar untuk mempercepat proses evakuasi dan penyaluran bantuan agar lebih tepat kepada masyarakat yang paling membutuhkan.

Respons lapangan juga dilakukan ketika banjir dan longsor melanda Nagari Aia Angek, Kecamatan Gunuang Omeh.

Dinas Sosial bersama BPBD turun langsung untuk melakukan penilaian cepat, mendata warga terdampak, serta memenuhi kebutuhan dasar.

Bantuan yang diberikan meliputi beras, bahan pangan, makanan siap saji, selimut, tikar, perlengkapan tidur, serta kebutuhan khusus bagi keluarga dan anak-anak.

Namun, penanganan tidak berhenti setelah bantuan disalurkan. Dinas Sosial tetap melakukan pendampingan sosial hingga warga dapat kembali beraktivitas.

“Kami tidak hanya hadir menyalurkan bantuan. Dinas Sosial memastikan perlindungan sosial terus berjalan hingga pemulihan selesai. Pengalaman di Aia Angek mengajarkan: kolaborasi semua pihak adalah kunci agar masyarakat bangkit lebih cepat,” kata Indra Suriani.

Penanganan serupa juga dilakukan saat kebakaran dan angin kencang terjadi di Sarilamak, Kubang, Guguak VIII Koto, hingga Sungai Naniang.

Ketika angin kencang melanda Jorong Sopang, Nagari Pangkalan dan menyebabkan satu orang meninggal dunia, Bupati Lima Puluh Kota H. Safni Sikumbang turun langsung ke lokasi bersama jajaran pimpinan daerah.

Bupati menegaskan pemerintah harus hadir bukan hanya dengan bantuan materi, tetapi juga memberikan perlindungan dan dukungan agar masyarakat dapat kembali bangkit.

“Setiap musibah adalah duka kita bersama. Pemerintah wajib hadir membawa perlindungan, bantuan, dan semangat agar warga bangkit kembali,” tegas Bupati.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lima Puluh Kota, Zaimar Hakim, S.H., mengatakan penanganan bencana tidak berhenti pada evakuasi.

Setiap laporan yang diterima ditindaklanjuti melalui penilaian cepat di lapangan. Penanganan kemudian dilanjutkan sampai masyarakat memasuki tahap pemulihan.

“Setiap laporan yang masuk langsung kami tindak lanjuti dengan penilaian cepat di lapangan. Upaya penanganan berlanjut terus hingga masyarakat pulih sepenuhnya. Karena itulah, sinergi lintas sektor mutlak diperlukan dan harus terus dijaga,” ujarnya.

Dari pengurangan risiko hingga pemulihan pascabencana, Dinas Sosial bersama BPBD dan seluruh mitra terus memperkuat kemampuan penanganan bencana di Kabupaten Lima Puluh Kota.

Bencana tidak selalu dapat dihindari. Namun, kesiapsiagaan warga, pendataan kelompok rentan, respons cepat, kerja sama lintas sektor, dan pendampingan pascabencana menjadi bagian penting untuk mengurangi dampak serta membantu masyarakat kembali menjalani kehidupan normal. (Sukrianto)

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini