Way Kanan | mikanews — Begawi Mancor Jaman resmi dimulai di Kecamatan Blambangan Umpu, Kabupaten Way Kanan, Lampung, Senin malam, 7 September 2026. Tradisi adat yang semakin jarang digelar itu dibuka dengan Sidang Adat Penyimbang Marga dan Cangget Matah.
Upacara adat besar tersebut digelar oleh Ikroni Gelar Sunan Kemala Raja dari Marga Lebuh Kebelah Tiuh Buay Pemuka Pangeran Udik.
Pelaksanaan Begawi Mancor Jaman menjadi bagian dari upaya melestarikan warisan budaya leluhur sekaligus memperkuat kesatuan adat di wilayah Way Kanan.
Pembukaan rangkaian acara berlangsung melalui dua prosesi adat yang digelar pada malam yang sama.
Prosesi pertama adalah Sidang Adat Penyimbang Marga. Musyawarah ini diikuti perwakilan dari lima kebuayan atau kesatuan adat yang berada di Kabupaten Way Kanan.
Sidang tersebut menjadi tahapan penting untuk menyatukan pandangan, menyepakati tata cara pelaksanaan, serta memastikan seluruh rangkaian Begawi berjalan sesuai ketentuan adat dan nilai yang diwariskan secara turun-temurun.
Prosesi kedua adalah Cangget Matah. Tradisi ini melibatkan para bujang dan gadis atau muli meranai dari lingkungan Buay Pemuka Pangeran Udik.
Cangget Matah menjadi bagian persiapan sebelum memasuki tahapan puncak, yakni Cangget Agung yang merupakan inti dari rangkaian upacara adat Begawi Mancor Jaman.
Antusiasme masyarakat terlihat dalam pembukaan tradisi tersebut. Warga dari berbagai kelompok usia datang menyaksikan prosesi adat, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.
Kehadiran masyarakat menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih mendapat perhatian dan penghargaan di tengah kehidupan warga Way Kanan.
Salah seorang pemuda setempat, Ando, mengatakan Begawi Mancor Jaman bukan sekadar kegiatan seremonial.
Menurutnya, rangkaian adat tersebut merupakan bagian dari sejarah dan identitas masyarakat Way Kanan yang perlu dijaga agar tidak hilang.
“Proses adat istiadat yang diadakan dalam Begawi Mancor Jaman ini menjadi kenangan sekaligus sejarah bagi kami warga Way Kanan. Ini merupakan bagian dari budaya yang harus terus dilestarikan,” ujar Ando.
Ando menilai Begawi Mancor Jaman memiliki nilai penting karena tradisi tersebut kini semakin jarang diselenggarakan.
Setiap pelaksanaannya menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk melihat secara langsung proses adat dan mengenal budaya yang diwariskan oleh leluhur.
Ia berharap pemerintah daerah memberikan perhatian dan dukungan terhadap pelestarian tradisi adat yang mulai jarang dilakukan.
Menurut Ando, generasi muda perlu diberi kesempatan untuk mengenal, mempelajari, dan terlibat dalam pelestarian budaya daerah.
“Harapannya, pemerintah dapat ikut mendukung dan mengembangkan adat serta budaya yang sudah mulai jarang dilakukan. Generasi muda perlu diberi ruang untuk mengenal dan ikut melestarikannya,” katanya.
Hingga kegiatan pembukaan berlangsung, seluruh rangkaian Begawi Mancor Jaman berjalan sesuai jadwal dan rencana yang telah ditetapkan.
Prosesi adat tersebut selanjutnya akan berlanjut hingga mencapai Cangget Agung sebagai tahapan puncak rangkaian Begawi.
Bagi masyarakat Way Kanan, pelaksanaan Begawi Mancor Jaman menjadi kesempatan untuk kembali memperkenalkan tradisi adat yang semakin jarang ditemui.
Antusiasme warga yang hadir juga memperlihatkan bahwa warisan budaya Lampung masih memiliki ruang di tengah kehidupan masyarakat dan dapat menjadi sarana pengenalan budaya kepada generasi berikutnya. (Ttk)





