BerandaTOKOHTragika Dalam Perjalan Spiritual Menjelang Senja Semakin Paham Banyak Pertanyaan Belum Terjawab

Tragika Dalam Perjalan Spiritual Menjelang Senja Semakin Paham Banyak Pertanyaan Belum Terjawab

Tragika Dalam Perjalan Spiritual Menjelang Senja Semakin Paham Banyak Pertanyaan Belum Terjawab

Oleh : Jacob Ereste

Mantan wartawan spesialis Timur Tengah, Dr. Ir. H. Satrio Arismunandar yang saya kenal semasa aktif bersama di Serikat Buruh Sejahtera Indonesia dan aktivis penggerak Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI) pada masa awal, menulis tentang Leo Tolstoy, sastrawan asal Rusia yang mengagumi Nabi Muhammad “Dalam Perjalanan Panjang Mencari Tuhan”, sungguh luar biasa, mengingat sang penulisnya sebagai sarjana Teknik Elektro dan doktor dalam bidang keilmuan filsafat.

Kemampuannya mengungkap dimensi-dimensi spiritual dan religiusitas Leo Tolstoy sungguh mengagumkan, dalam bahasa tutur maupun narasinya yang kental bernuansa sastra.

Tragika intelektual Leo Tolstoy. disibak oleh Satrio Arismunandar dari tragedi ironi pada masa tua sang Pencari Tuhan, justru menemukan banyak pertanyaan tentang ketidaktahuan dirinya, setelah mengetahui banyak hal, sesungguhnya belum mengetahui apa-apa, sehingga semakin banyak pertanyaan menggantung dan menggantang, seakan membuktikan itulah bagian dari rahasia langit.

Dimensi spiritual yang dipaparkan dalam tulisan ini, sesungguhnya tak cuma menunjukkan getaran frekuensi spiritual sang penulis dan sosok yang ditulis — Leo Tolstoy dan Nabi Muhammad semata — tapi juga membuktikan daya jelajah spiritual dari sang penulis yang cukup jembar dan dalam menyelami jagat spiritual yang sangat luas.

Dan sejujurnya pun, saya senang juga bungah, karena media sosial Satupena serta segenap pengaruh dan penulisnya yang dibesut Denny JA Foundation cukup riap dan gegap gempita menyajikan menu spiritual yang sangat dibutuhkan manusia dari belahan dunia manapun untuk memiliki kesadaran, kemampuan, kecerdasan serta kesadaran spiritualitas yang tinggi dan mumpuni untuk mempersakti diri agat tidak sampai terjerembab ke lembah dunia yang menjijikan.

Satupena yang meniupkan angin segar dalam profesi tulis menulis — tak hanya sebatas khasanah sastra semata, tapi juga tentang spiritualitas — sungguh menggembirakan hati — seperti paparan Riener Emyot Ointoe yang mengurai tentang “Terapi Ayat (Dalam) Spiritualitas Islam”, agama sebagai sumber utama makna hidup manusia kini mengalami pergeseran istilah bahkan makna yang dibawanya. Kata “spiritualitas” sebagai istilah inti selainnya — tampak lebih netral, lebih universal, dan karenanya lebih mudah diterima dalam wacana modern.

Bahkan lebih dari itu, jelasnya kemudian, kata “spiritual” memiliki akar yang panjang dalam sejarah bahasa dan pemikiran manusia. Ia berasal dari bahasa Latin : spiritus yabg berarti “nafas , hembusan, jiwa, roh”.

Intinya, spiritual dipandang sebagai simbol kehidupan, sehingga mengandung makna tenaga yang vital untuk menghubungkan manusia dengan dimensi transenden. Spiritus sebagai akar dari spiritualis menjadi penanda roh atau jiwa manusia.

Dari perkembangan sejarah bahasa Francis Kuno, urai Reiner Emyot Ointoe, spirituel masuk ke dalam bahasa Inggris dengan sebutan spiritual yang bermakna “hubungan dengan hal rohani, immaterial, religius.

Pendek cerita, saya suka, senang serta gembira dengan maraknya sajian kawan-kawan penulis Satupena yang semakin bernas dan bermutu, utamanya mengenai sajian menu yang sangat bergizi dengan nutrisi spiritual mempercepat gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual untuk segera membumi dari Nusantara yang kini telah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk bangsa-bangsa di dunia.

Inspirasi dari gagasan Denny JA yang bertekad untuk segera menterjemahkan 120 tulisan karya anak bangsa agar dapat menjadi bacaan dunia melalui translasi karya-karya pilihan ke dalam berbagai bahasa — utamanya Inggris — sungguh memantik ide saya untuk segera menterjemahkan juga sejumlah tulisan lepas tentang spiritualitas ke dalam bahasa asing.

Perjalan panjang Leo Tolstoy mencari Tuhan — bersua dan berguru Nabi Muhammad, dalam pemaknaan spiritualitas — sejarah, politik, perang, cinta, keluarga, kematian dan berbagai lapisan jiwa (batin) manusia, dalam usia senja Leo Tolstoy justru gelisah dengan terhadap ribuan pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh sastra.

Sehingga kebenaran yang lebih besar dan penting ungkap Satrio Arismunandar, adalah kebenaran dari batas-batas agama, bangsa, gereja dan kebudayaan. Begitulah Lei Tolstoy menemukan Nabi Muhammad sebagai pembawa ajaran moral yang penuh dan sarat dengan bobot spiritualitas.

Dari berbagai ragam persinggahan perjalanan spiritualnya mencari Tuhan, urai Satrio Arismunandar — persinggahan Leo Tolstoy di Hindu, Buddha, Laozi, Konfusius hingga tradisi-tradisi lain– justru Muhammad yang menjadi lawan dialog spiritualnya yang intens serta mendalam, tiada perduli apakah pada akhirnya Leo Tolstoy menjadi pemeluk agama Islam.

Susunan sabda pilihan dari Nabi Muhammad yang diterbitkan dalam Rusia berjudul “Izechinya Magometa, ne voshedshie v koran” (Sabda Muhammad yang tidak masuk dalam Al Qur’an) justru jadi menarik perhatiannya sekaligus ikut memperkaya khazanah tantang Islam. Dab buku yang terbit di Moskow pada tahun 1910 ini — sementara dalam catatan resmi Leo Tolstoy sendiri terbit pada 19 Oktober 1909.

Leo Tolstoy sungguh tidak tertarik pada agama sebagai identitas, ia tertarik pada agama sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana manusia harus hidup yang harmoni. Sehingga cara membaca berbagai kitab dan ajaran dari semua agama dengan kecerdasan intelektual, tidak menelan dogma tanpa dicerna dengan baik dan benar.

Karena dalam berbagai agama sangat mungkin berbeda doktrin dan sejarahnya tapi di dalamnya terdapat upaya pencarian moral yang serupa : manusia harus keluar dari egoisme dan kekerasan, mencari jalan yang benar mendekatkan diri dengan Tuhan, serta penuh kasih pada sesama manusia dan cinta terhadap alam.

Pada akhirnya, sikap ugahari saat usia menjelang senja, bukan karena banyak pertanyaan sudah terjawab, tapi justru sebaliknya semakin menyadari betapa lebih banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Karena itu — dalam kesadaran spiritual — orang bijak bermohon tetap sekalu sehat dan berumur panjang, karena ingin menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan, bukan karena masih ingin menikmati hidup sekedar untuk bersenang-senang saja bersama anak, istri, cucu dan menantu seperti yang selalu dilantunkan lewat do’a-do’a.

(Red)
Banten, 13 September 2026

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini