PASAMAN BARAT, Mikanews.id — Pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Pasaman Barat diperkuat melalui peningkatan kapasitas kader masyarakat. Kader PKK, Posyandu, dan Bina Keluarga Balita (BKB) didorong mampu mengenali tanda-tanda kekerasan sejak dini dan membantu korban memperoleh perlindungan yang tepat.
Upaya tersebut dilakukan Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A).
Kegiatan dikemas dalam Pertemuan Penggerakan dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan (KTP) dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Pertemuan berlangsung di Aula Kantor Camat Pasaman, Senin (14/9/2026).
Kegiatan mengangkat tema “Kader Peduli, Keluarga Harmonis, Perempuan dan Anak Terlindungi.”
Pesertanya merupakan kader yang bersentuhan langsung dengan keluarga dan masyarakat. Hadir Ketua TP PKK sekaligus Ketua P2TP2A Pasaman Barat Ny. Sifrowati Yulianto, Camat Pasaman Hendrizal, Kepala DPPKBP3A Pasaman Barat Armen, serta psikolog Andhika Anggawira sebagai narasumber.
Kader Diminta Berani Deteksi Kekerasan Sejak Dini
Ketua TP PKK Pasaman Barat Ny. Sifrowati Yulianto mengatakan kader mempunyai posisi penting dalam membangun ketahanan keluarga dan mencegah kekerasan dari lingkungan terdekat.
Menurutnya, kader harus memiliki kemampuan untuk mengenali persoalan yang berpotensi mengarah pada kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Para kader diharapkan mampu mengenali, menelaah, dan mengambil inisiatif dalam mencegah serta membantu menangani permasalahan kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di lingkungan masing-masing,” ujar Sifrowati.
Ia menegaskan, keluarga menjadi benteng pertama dalam memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak.
Karena itu, penguatan ketahanan keluarga dinilai perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam upaya pencegahan kekerasan.
“Keluarga merupakan benteng pertama dalam memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak. Karena itu, penguatan keluarga harus menjadi bagian penting dari strategi pencegahan kekerasan,” tegasnya.
Perlindungan Perempuan dan Anak Bukan Hanya Tugas Pemerintah
Camat Pasaman Hendrizal mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut.
Ia menegaskan bahwa menciptakan lingkungan aman bagi perempuan dan anak membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
“Perempuan dan anak harus mendapatkan lingkungan yang aman, terbebas dari kekerasan dan diskriminasi. Untuk mewujudkannya diperlukan kolaborasi antara pemerintah, keluarga, kader, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat,” katanya.
Menurut Hendrizal, keterlibatan masyarakat menjadi penting karena kader berada dekat dengan keluarga dan lingkungan tempat masyarakat beraktivitas.
DPPKBP3A: Jangan Menunggu Kekerasan Terjadi
Kepala DPPKBP3A Pasaman Barat Armen menekankan bahwa pencegahan tidak boleh dilakukan setelah kekerasan terjadi.
Dampak kekerasan, kata dia, tidak terbatas pada luka fisik. Kekerasan juga dapat menyebabkan trauma, gangguan psikologis, persoalan sosial, mengganggu pendidikan dan memengaruhi masa depan korban.
“Kasus yang tercatat dan dilaporkan belum tentu menggambarkan seluruh kondisi yang terjadi di masyarakat. Karena itu, kita tidak boleh hanya bergerak ketika kasus sudah terjadi. Pencegahan harus dilakukan sejak dini dan dimulai dari lingkungan keluarga serta masyarakat,” ujar Armen.
Ia juga meminta masyarakat tidak memilih diam ketika menemukan indikasi kekerasan.
Menurut Armen, penguatan kapasitas kader bukan sekadar menambah pengetahuan. Hal yang lebih penting adalah membangun keberanian untuk melakukan pencegahan dan memberikan bantuan awal.
“Yang kita bangun bukan hanya pengetahuan, tetapi juga perubahan pemahaman, sikap, dan perilaku. Masyarakat harus memiliki keberanian untuk mencegah, melindungi, dan menghubungkan korban dengan layanan yang tepat,” katanya.
Armen menyebut kedekatan kader dengan keluarga dan masyarakat menjadi modal penting dalam membangun jejaring perlindungan.
Kedekatan tersebut juga diharapkan memperkuat kemampuan masyarakat dalam melakukan deteksi dini terhadap dugaan kekerasan.
Kader Dibekali Pengetahuan Bentuk dan Dampak Kekerasan
Psikolog Andhika Anggawira memberikan materi mengenai bentuk kekerasan, faktor risiko, tanda-tanda serta dampaknya terhadap perempuan dan anak.
Peserta dibekali pemahaman mengenai kekerasan fisik, psikis, seksual, penelantaran dan bentuk kekerasan lainnya.
Tidak hanya mengenali tanda-tanda kekerasan, kader juga diarahkan memahami respons awal ketika menemukan dugaan kasus.
Materi mencakup mekanisme pelaporan dan rujukan agar dugaan kasus dapat diarahkan kepada layanan yang sesuai.
“Kader memiliki posisi yang sangat strategis karena berinteraksi langsung dengan keluarga dan masyarakat. Dengan pengetahuan yang baik, kader dapat membantu mengenali tanda-tanda kekerasan lebih awal dan mendorong korban mendapatkan pertolongan melalui layanan yang tepat,” jelas Andhika.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang sehat di dalam keluarga.
Pengasuhan positif dan lingkungan sosial yang mendukung tumbuh kembang anak juga dinilai penting dalam mencegah munculnya kekerasan.
Bangun Jejaring Perlindungan Berbasis Masyarakat
Melalui kegiatan tersebut, DPPKBP3A Pasaman Barat mendorong terbentuknya jejaring pencegahan kekerasan berbasis masyarakat.
Jejaring tersebut melibatkan pemerintah, kader, keluarga dan lingkungan sosial.
Kader diharapkan tidak hanya menjalankan kegiatan kemasyarakatan.
Mereka juga didorong menjadi penggerak, edukator, pendeteksi dini serta penghubung masyarakat dengan layanan perlindungan.
Penguatan kapasitas kader menjadi bagian dari upaya Pemkab Pasaman Barat memperluas edukasi dan memperkuat pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Langkah tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan koordinasi dan sinergi lintas sektor.
Dengan penguatan peran kader, pemerintah daerah berharap lingkungan keluarga dan masyarakat dapat semakin aman, ramah dan memberikan perlindungan bagi perempuan dan anak. (Aulia)





