Rembang, Mikanews | Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menegaskan pentingnya menjaga persatuan sebagai modal utama bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan dan perubahan global. Demikian ditegaskan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, M.Si., dalam kegiatan Ngaji Kebangsaan bersama ulama besar K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (26/9/2026).
Pertemuan menyatukan tuntunan rohani, pengabdian negara, dan harapan seluruh bangsa.
Kapolri mengajak seluruh elemen bangsa mengelola perbedaan dengan bijak.
Di tengah dinamika global yang berubah cepat, kebersamaan adalah benteng paling kokoh.
“Persatuan harus dijaga agar perbedaan yang menjadi ciri khas Indonesia tidak berkembang menjadi konflik yang merugikan kita semua.
Keberagaman bukan pemisah — ia adalah kekuatan sejati bangsa ini,” ujarnya.
Sejarah membuktikan: ulama dan umara para pemimpin agama dan pemimpin negara selalu berjalan beriringan sejak masa merebut hingga mempertahankan kemerdekaan.
Semangat itulah yang kini harus dihidupkan kembali untuk mengisi kemerdekaan dan membawa Indonesia melangkah maju.
Ulama Lentera, Polri Pelindung Satu Tujuan: Rakyat Tenang, Bangsa Maju
Kapolri memaparkan peran saling melengkapi:
– Ulama menjadi kompas dan lentera bangsa, nasihat, tuntunan, dan doa memberi arah agar masyarakat tetap di jalan yang benar;
– Polri memikul amanah menjaga keamanan, ketertiban, perlindungan, dan pengayoman bagi seluruh lapisan masyarakat.
Kedua peran itu bertemu di satu titik: ketika persatuan terjaga dan keamanan terpelihara, rakyat dapat beraktivitas dengan tenang, dan pembangunan berjalan tanpa hambatan.
700 Hadir Langsung, 41.449 Ikut Virtual, Doa Keselamatan untuk Personel di Lapangan;
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh 700 peserta: 100 Polwan, 300 Polri, dan 300 santri. Secara daring, antusiasme meluap, 41.449 orang dari berbagai pelosok negeri turut menyimak.
Kapolri menyampaikan terima kasih kepada Gus Baha dan seluruh pengurus pesantren.
Ia juga menitipkan harapan sekaligus permohonan doa:
“Tugas kami penuh risiko. Kami mohon doa dan bimbingan para ulama, agar setiap personel yang bertugas diberikan keselamatan, kekuatan, dan kemudahan saat mengabdi kepada masyarakat,” ungkapnya.
Ngaji Kebangsaan ini pada akhirnya menyatukan tiga pilar penting:
– Tuntunan ulama — menjaga nilai luhur bangsa;
– Pengabdian aparat — menjaga ketenteraman dan keadilan;
– Persatuan masyarakat — menjaga kebersamaan di tengah perbedaan.
Dari Rembang, pesannya bergema ke seluruh penjuru: berbeda tidak harus berjarak, bersatu berarti bergerak maju bersama.
Ketika ulama dan umara bergandengan, masyarakat tetap bersatu, keamanan terjaga, dan cita-cita Indonesia yang adil serta makmur bukan lagi sekadar harapan, melainkan kenyataan yang dibangun bersama.
(Pd)





