BerandaOPINIUntuk Menata Peradaban Yang Rusak Hanya Bisa Dibangun Dengan Konstruksi Spiritual Yang...

Untuk Menata Peradaban Yang Rusak Hanya Bisa Dibangun Dengan Konstruksi Spiritual Yang Kokoh dan Kuat

Jacob Ereste :

Untuk Menata Peradaban Yang Rusak Hanya Bisa Dibangun Dengan Konstruksi Spiritual Yang Kokoh dan Kuat
Dipenghujung derita panas yang kerontang membakar lahan — bukan lagi hutan, karena sudah habis sejak beberapa tahun silam — kini hujan mulai turun dan menimbulhan bencana banjir dan tanah longsung yang melantak sejumlah pemukiman penduduk seakan tanpa ampun.

Peristiwa serupa Ini bukan saja menunjukkan manusia tiada berdaya dihadapan Tuhan yang meniupkan angin, dan topan hingga hujan yang selalu diupayakan untuk direkayasa oleh manusia, namun tetap tidak mampu menghentikan bencana, karena manusi nyaris tak berjarak dengan keledai yang terus terperosok pada lubang yang sama.

Musim kemarau panjang yang sudah mampu diprediksi sebelumnya akan menghampiri, toh manusia tidak cukup mengatasi kekeringan sawah dan ladang hingga lahan terbakar dan membagikan polusi asap ke seantero jagat, tak hanya di kampung dan lingkungan tempat tinggal kita sendiri, tapi menjarah wilayah negara tetangga yang cukup jauh nun disana. Tak hanya sumpah serapah yang dimuntahkan, tapi kecaman hingga ancaman hendak memberi sanksi pun sudah dilontarkan.

Bencana kebakaran dan banjir hingga tanah longsor dan angin topan akan terus berulang dalam sekala waktu tertentu, seakan mengingatkan pada kebododohan keledai yang kembali terperosok pada lubang yang sama.

Tak ada upaya saat senggang membangun sumber air yang bisa didistribusikan ke berbagai tempat saat musim kering tiba. Setidaknya agar kebutuhan air untuk rumah tangga dan lahan pertanian tidak harus menganggur seperti buruh yang kehilangan pekerjaan.

Begitu juga saat musim penghujan tiba, seakan tidak pernah diketahui daerah dan wilayah mana saja yang sudah berulang kali terendam dan membuat rakyat miskin bertambah parah dera dan derita yang menerpa hidup dan kehidupan, hanya sekedar menyambung hidup yang acap terancam putus agar tidak mati sampai hari esok yang masih harus dibangun bersama anak yang masih sekolah dan cucu yang kelak diharap bahwa keluarga mereka yang miskin pernah hidup di tengah kekayaan alam Indonesia yang melimpah.

Lantas siapa yang salah ketiks keritik dan pendapat rakyat sudah berulang kali dikatakan seperti kepada keledai peliharaan yang malang.

Sementara lubang yang membuat keledai terperosok tidak pernah diatasi seperti jalan raya di kampung kita yang tak kunjung diperbaiki, meskipun sudah menibulkan banyak korban berjatuhan.

Teriakan protes bukan kurang keras dijeritkan, tapi suara yang lebih merdu dan menjanjikan pundi-pundi yang menggiurkan lebih banyak, seperti rabuk dan pupuk dari pertumbuhan korupsi yang tak kunjung habis cara dan modus terbaru untuk menjarah tak hanya sebatas Anggaran Belanja Negera dan Daerah yang harus digunakan sebagaimana semestinya, tapi untuk ongkos ibadah haji pun telah dihalalkan juga untuk dikorupsi dengan cara sogok menyegok dan pat gulipat seperti makelar hukum dan mavia peradilan yang tetap mengatasnamakan Tuhan.

Agaknya, kapling untuk penghuni surga pun tengah dalam upaya rekayasa agar punya nilai investasi yang bisa dinikmati saat sebelum masuk neraka yang sudah diisyaratkan dalam ajaran dan tuntunan semua agama.

Inilah sebabnya program kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual yang paling rekevan dan mendesak untuk dilakukan dalam sekala semesta, tak hanya sebatas kampung, daerah, nasional tapi dalam peta global yang universal karena peradaban dunia memang sedang terguncang untuk segera ditata ulang melalui konstruksi spiritual yang kuat.

Benten, 26 Oktober 2026

Caratan kaki :
Paparan ini diinspirasi dari seri dialog dengan Sri Eko Sriyanto Galgendu bersama sahabat dan kerabat GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesis) dari pertemuan rutin Senin-Kamis di Sekretariat GMRI.

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini