Bukittinggi, Mikanews.id — Ajang Minang Geopark Run 2026 siap digelar pada 1 November 2026, dengan total 3.800 peserta terdaftar yang terbagi ke dalam kategori lari 5K, 10K, dan 21K. Memasuki tahun kesembilan penyelenggaraan, kegiatan ini jauh lebih dari sekadar lomba lari. Ini adalah misi besar untuk menghidupkan kembali popularitas kawasan geopark Sumatera Barat, sekaligus mendorong upaya meraih status UNESCO Global Geopark.
Idris Saputra, salah satu penggagas kegiatan, mengungkapkan ide besar ini sudah dirintis sejak 2018 bersama Ramlan Nurmartias. Ia menegaskan, Minang Geopark Run bukan kegiatan yang berfokus mencari keuntungan semata, melainkan misi sosial sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan geopark.
“Dari delapan provinsi yang sedang mengembangkan geopark, Sumatera Barat adalah satu‑satunya yang sudah memenuhi sejumlah syarat status nasional dan persyaratan UNESCO. Namun upaya mengenalkan geopark kepada masyarakat masih perlu diperkuat,” ujar Idris.
Ia juga menyoroti keunggulan sekaligus tantangan daerah. Berbeda dengan Belitung yang hanya memiliki satu kawasan geopark, Sumatera Barat memiliki tiga kawasan unggulan yakni Maninjau, Pandai Sikek, dan Ngarai Sianok. Meski daerah seperti Banyuwangi dan Bondowoso lebih cepat melakukan promosi, Bukittinggi memiliki keunggulan akomodasi hotel yang sangat memadai untuk menampung wisatawan.
Idris berharap dukungan penuh dari kepala daerah dan bupati guna mengatasi hambatan seperti risiko bencana alam dan dampak pandemi COVID‑19 yang sempat menghambat perkembangan wisata geopark.
Kegiatan ini mengusung semboyan memuliakan bumi, sejahterakan masyarakat, menjaga kelestarian alam, dengan melibatkan warga secara langsung agar mereka merasakan manfaat ekonomi dan lingkungan dari kawasan geopark.
Lomba lari utama akan dimulai pukul 06.30 WIB untuk kategori 21K, dilanjutkan kategori 10K, dan akan dihadiri Bima Arya sebagai tamu undangan. Panitia juga menyiapkan antisipasi risiko cuaca, serta menjaring sponsor tambahan seperti BNI dan Bimanta guna memenuhi kebutuhan dana operasional sekitar 325 juta rupiah.
Lutfi, Sekretaris Daerah Agam yang hadir mewakili Bupati Agam yang berhalangan hadir, menambahkan kegiatan ini menjadi sarana pengenalan potensi daerah sekaligus memberdayakan masyarakat melalui program tanggung jawab sosial. Dampak positif kegiatan ini menjangkau wilayah Bukittinggi dan Agam yang wilayahnya saling bersinggungan.
Tahun 2025 lalu, jumlah kunjungan wisata menurun akibat bencana alam dan gangguan akses, sehingga rehabilitasi infrastruktur menjadi prioritas. Melalui Minang Geopark Run, wisatawan dapat mengunjungi beragam destinasi wisata, menikmati kuliner lokal, sekaligus menggerakkan roda ekonomi UMKM, transportasi, dan sektor perhotelan.
Dalam kesempatan konferensi pers, Ramlan Nurmartias menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pemangku kepentingan mulai dari panitia, sponsor, pemerintah daerah hingga masyarakat pendukung. “Alhamdulillah, setelah mengucap syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Insya Allah kegiatan besok dapat berjalan dengan lancar,” ucapnya.
Ramlan menjelaskan dua tujuan utama kegiatan, yaitu menumbuhkan cinta masyarakat terhadap alam serta memperkenalkan potensi wisata Bukittinggi, yang diperkirakan memberikan dampak ekonomi besar lewat peningkatan hunian hotel. Selain lomba utama, panitia juga menyiapkan fun run mengelilingi Jam Gadang sebagai peringatan hari jadi ikon bersejarah Bukittinggi tersebut.
Di sisi lain, ada masukan konstruktif dari peserta asal luar Sumatera Barat. Peserta tersebut mengungkapkan rasa kecewa karena harus mengantri dalam antrean yang panjang. Ia berharap panitia pada edisi mendatang menyusun sistem layanan yang lebih proporsional, misalnya memanfaatkan teknologi atau memaksimalkan sumber daya yang tersedia agar kegiatan berjalan lebih efektif dan efisien.
Baik Idris Saputra maupun Ramlan Nurmartias sama‑sama menegaskan Minang Geopark Run menggabungkan olahraga, promosi wisata, pelestarian geopark, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum pemulihan wisata Sumatera Barat, sekaligus menjadi langkah nyata memperkuat status geopark menuju jaringan UNESCO Global Geopark, dengan terus memperbaiki kekurangan layanan demi kenyamanan peserta di masa depan.
(YamanLbs)





