BerandaOPINISpiritualitas Dalam Filsafat dan Filsafat Dalam Spiritualitas

Spiritualitas Dalam Filsafat dan Filsafat Dalam Spiritualitas

Spiritualitas Dalam Filsafat dan Filsafat Dalam Spiritualitas

Oleh: Jacob Ereste

Filsafat itu ada di dalam spiritualitas. Karenanya — filsafat bangsa Barat dan filsafay bangsa Timur menarik jadi kajian dan diperbandingkan dalan perspektif spiritual. Sehingga spiritualitas menjadi lebih menarik untuk dikaji juga dalam perspektif filsafat.

Filsafat dalam perspektif spiritual dari berbagai kajian selalu mengusung pertanyaan dari mana, untuk apa dan mau ke mana. Sedangkan filsafat itu semacam peta untuk perlengkapan suatu perjalanan, tetapi bukan wujud dari perjalanan itu. Jadi semua orang bisa menghapal dan mengenal semua peta — filsafat — tetapi tidak semua orang bisa dan telah melakukannya.

Jadi filsafat dalam spiritualitas itu semacam kompas. Dan kompas bisa dibeli dan dimiliki oleh siapapun. Tapi, apakah mungkin demua orang yang memiliki kompas itu telah melakukan perjalanan yang jauh dan panjang ?

Jadi, semua orang bisa menghapal peta dunia, namun dapat dipastikan semua yang hapal peta dunia itu tidak pernah keliling dunia. Sebab dunia cukup luas, merentang dari Kutub Utara hingga Kutub Selatan. Belum hamparan luas dari Timur ke Barat yang cukup luas.

Rentangan dan keluasan bumi ini saja sudah lebih dari cukup untuk membuktikan betapa Maha Besarnya Allah SWT, karena ciptaan-Nya tak habya bumi, tetapi jagat raya samai galaksi dan planet, termasuk matahari dan rembulan yang mampu menyempurnakan romantisme manusia yang juga menjadi sumber misteri dari sifat illahiyah Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segalanya

Lalu bagaimana mungkin filsafat Barat jadi tidak percaya terhadap fitrah bawaan yang langsung diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia sejak awal kelahiran manusia di bumi maupun kelak mungkin bisa dilahirkan di planet lain.

Hakikat dari fitrah itu dalam pemahaman Jawa dapat dipahami dari sangkan paran ing dumadi, bahwa aku ada karena ada yang mengadakan. Karena manusia tidak ada karena diadakan oleh dirinya, tatapi oleh Yang Maha Pencipta — dari Yang Maha Suci — yaitu Allah SWT.

Wujudnya tidak bisa dipahami dan dibuktikan oleh filsafat Barat yang mengacu pada logika pembuktian, wujud — tetapi bisa dirasakan seperti alur filsafat bangsa Timur yang berdasarkan pada rasa, seperti rindu, kangen dan sedih, namun tetap kalah rindu kepada yang menciptakan.

Maka itu memori atau ingatan tentang sangkan paran ing dumadi. Jadi fitrah itu esensinya adalah ingatan untuk kembali dalam keadaan suci dan bersih dari semua perbuatan kotor. Sehingga ada rasa malu — siri’ bagi orang Bugis, isin untuk orang Jawa, fi’il pesengiri sebagai sihap kepribadian dari orang Lampung.

Jadi fitrah yang diberikan Tuhan untuk setiap manusia sejak lahir bukan lagi sesuatu yang perlu dicari — apalagi sampai dianggap tidak ada oleh para filsuf Barat — karena fitrah bagi manusia itu adalah bekal bawaan sejak lahir yang harus diingat, dijaga dan dirawat agar tidak sampai menguap sedikitpun hingga manusia kembali kepada Yang Khaliq.

Karena tugas para pendidik yang paling berat bukan cuma mengisi kepala setiap anak didik dengan ilmu dan pengetahuan, karena yang lebih berat dan rumit mengisi hati dan jiwa (batin) semua anak didik dengan beragam bunga cinta, empati, perhatian, kepedulian, tenggang rasa, sopan santun, rasa penuh hormat serta percaya kepada Yang Maha Kuasa sebagai Yang Maha Pencipta.

Filsafat Barat melihat sesuatu sebagai obyek yang harus dipikirkan, sedangkan filsafat Timur sudah memasuki alam filsafat untuk menikmati keindahan di dalamnya.

Artinya, jika spiritualitas harus dibuktikan terlebih dahulu — seperti cara berpikir filsafat bangsa Barat — sehingga semua hal yang tidak bisa diukur, tidak bisa ditakar dan tidak bisa dibuktikan terlebih dahulu oleh akal pikiran, maka bagi bangsa Barat itulah yang dipahami oleh mereka yang disebut tahayul.

Padahal sesuatu yang gaib heboh banyak lagi yang bisa membuat bangsa Barat tercengang, berdecak kagum dan takjub tanpa bisa berkata apa-apa. Karena spiritualitas dijadikan obyek, bukan sandangan yang harus digunakan agar dapat bersikap ugahari, sederhana, jujur dan ikhlas serta selalu siap menerima takdir tanpa keluh kesah, apalagi harus mengkambing hitamkan orang lain.

Banten, 30 Oktober 2026

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini