BerandaTRENDING TOPIKDikejar Pedang Jepang, Yusuf Ronodipuro Nekat Siarkan Proklamasi ke Dunia

Dikejar Pedang Jepang, Yusuf Ronodipuro Nekat Siarkan Proklamasi ke Dunia

Dikejar Pedang Jepang, Yusuf Ronodipuro Nekat Siarkan Proklamasi ke Dunia

Oleh Zoelnasti

Saat Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaannya, Muhammad Yusuf Ronodipuro mengambil risiko yang bisa merenggut nyawanya.

Di tengah penjagaan ketat tentara Jepang, Yusuf nekat membuka jalan agar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia terdengar hingga ke luar negeri.

Malam itu, bukan senjata yang berada di tangannya. Hanya mikrofon, keberanian, dan tekad bahwa dunia harus mengetahui Indonesia telah merdeka. Risikonya sangat nyata. Jika ketahuan, nyawanya menjadi taruhan.

Proklamasi Sudah Dibacakan, Tetapi Dunia Belum Mendengar

Pukul 10.00 WIB, Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.

Namun, kabar tersebut menghadapi hambatan besar untuk menyebar. Gedung Radio Hoso Kyoku di Jalan Medan Merdeka Barat berada di bawah pengawasan ketat tentara Kempetai. Pintu masuk dijaga, sementara siaran ke luar negeri telah dihentikan.

Yusuf Ronodipuro, yang saat itu bekerja sebagai penyiar dan reporter, berada di dalam gedung bersama para pegawai lainnya.

Kemudian sebuah pesan rahasia mengubah keadaan. Pada petang 17 Agustus 1945, pegawai kantor berita Domei bernama Syahruddin berhasil menyusup melalui tembok belakang gedung.

Ia membawa kabar dari Adam Malik bahwa Soekarno dan Mohammad Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Bagi Yusuf, kabar tersebut tidak boleh berhenti di dalam gedung radio. Kemerdekaan harus didengar dunia.

Menemukan Studio Rahasia yang Lolos dari Pengawasan

Yusuf kemudian bergerak bersama Bachtiar Loebis dan teknisi radio Joe Seragih. Masalahnya, seluruh studio siaran diawasi tentara Jepang.

Yusuf kemudian teringat sebuah ruangan yang sudah tidak digunakan, yaitu Studio Siaran Mancanegara. Studio tersebut luput dari pengawasan. Tetapi ada persoalan lain: studio itu tidak terhubung dengan pemancar.

Joe Seragih kemudian bekerja menyusun dan mengalihkan jalur kabel. Setelah upaya tersebut berhasil, studio dapat terhubung dengan pemancar internasional. Kesempatan itu tidak boleh disia-siakan.

Pukul 19.00 WIB, Suara Indonesia Menggelegar ke Luar Negeri

Tepat pukul 19.00 WIB, Muhammad Yusuf Ronodipuro membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia melalui siaran Radio Hoso Kyoku.

Saat itu Yusuf baru berusia 26 tahun. Sekitar 20 menit kemudian, Proklamasi kembali dibacakan dalam bahasa Inggris.

Tujuannya jelas: agar kabar kemerdekaan Indonesia dapat dipahami dan diteruskan melalui jaringan radio internasional, termasuk BBC London, radio Amerika Serikat, dan siaran dari Singapura.

Untuk beberapa saat, suara kemerdekaan Indonesia berhasil menembus batas yang dibuat penguasa Jepang. Tetapi keberhasilan itu segera berubah menjadi petaka.

Siaran Terdengar Jepang, Yusuf Hampir Kehilangan Kepala

Sinyal siaran tersebut ikut tertangkap oleh stasiun radio di Jepang. Pihak Jepang mengetahui adanya siaran Proklamasi.

Yusuf dan Bachtiar Loebis kemudian disergap dan ditangkap. Keduanya dipukuli di dalam gedung. Situasi menjadi semakin mengerikan ketika seorang perwira Jepang menghunus pedang katana dan hampir memenggal kepala Yusuf. Nyawanya berada di ujung maut.

Yusuf akhirnya selamat setelah seorang pegawai Jepang masuk dan menghentikan tindakan tersebut. Pegawai itu mengingatkan bahwa Jepang telah menyerah dalam Perang Dunia II. Yusuf keluar dalam kondisi tubuh penuh luka dan pakaian berlumuran darah. Namun, ia masih harus menyelamatkan dirinya.

Bersepeda dalam Kondisi Luka untuk Mencari Perlindungan

Dalam keadaan terluka, Yusuf bersepeda menuju rumah pelukis Basuki Abdullah di kawasan Gambir. Tempat itu menjadi lokasi perlindungan sementara baginya.

Pada keesokan harinya, Yusuf mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Sentrale Civiel Ziekenhuis di Salemba, yang kini dikenal sebagai Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo atau RSCM.

Peristiwa itu menunjukkan harga yang harus dibayar setelah suara Proklamasi berhasil disiarkan. Kemerdekaan ternyata tidak hanya diperjuangkan melalui pertempuran di medan perang, ada perjuangan melalui informasi.

Belum Selesai: Yusuf Kemudian Mendirikan RRI

Perjalanan Yusuf Ronodipuro tidak berhenti pada malam Proklamasi. Pada 11 September 1945, ia bersama tokoh-tokoh penyiaran lainnya mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI). Ia juga menjadi salah satu tokoh yang merumuskan semboyan:  “Sekali di Udara, Tetap di Udara.” Kalimat tersebut kemudian melekat dalam sejarah penyiaran Indonesia.

Nama yang Patut Diingat Setiap 17 Agustus

Muhammad Yusuf Ronodipuro lahir di Salatiga, Jawa Tengah, pada 30 September 1919. Ia meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, pada 27 Januari 2008 dalam usia 88 tahun.

Namanya mungkin tidak sepopuler Soekarno dan Mohammad Hatta dalam sejarah Proklamasi. Namun, perannya memiliki tempat tersendiri.

Ketika Proklamasi telah dibacakan, Yusuf membantu membawa kabar itu melewati batas wilayah Indonesia. Ia mempertaruhkan nyawa demi sebuah suara.

Pada malam 17 Agustus 1945, suara Yusuf Ronodipuro bukan sekadar suara seorang penyiar. Itu adalah suara sebuah bangsa yang baru saja menyatakan dirinya merdeka.

Dan ketika pedang Jepang hampir mengakhiri hidupnya, perjuangannya justru meninggalkan warisan yang terus mengudara.

Oleh Zoelnasti

Dikutip dari berbagai Sumber.

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini