BerandaBERITAGunung Anak Krakatau Tetap Siaga, 8 Bandara Ditutup

Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, 8 Bandara Ditutup

JAKARTA | mikanews — Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda masih berstatus Level III atau Siaga hingga Senin, 7 September 2026. Aktivitas vulkanik gunung api tersebut juga membuat kawasan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif tetap dilarang dimasuki.

Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya berada di sekitar kawasan gunung api. Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mencapai lapisan atmosfer tinggi telah mengganggu operasional penerbangan dan menyebabkan delapan bandara di Pulau Jawa dan Sumatera ditutup sementara.

Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan bahwa pemantauan hingga pukul 07.00 WIB belum menunjukkan adanya anomali muka air laut maupun potensi tsunami di sekitar Selat Sunda.

Data tersebut diperoleh dari 20 alat pencatat tinggi muka air laut yang ditempatkan di sekitar Selat Sunda.

BMKG juga melakukan analisis menggunakan teknologi High-Frequency Radar Array yang terpasang di Carita dan Tanjung Lesung. Hasil pemantauan menunjukkan probabilitas terjadinya tsunami berada pada tingkat rendah, yakni di bawah 40 persen.

Pada saat yang sama, tinggi gelombang laut terpantau berada di kisaran satu meter.

Meski kondisi tersebut belum menunjukkan potensi tsunami, BMKG tetap menemukan sejumlah fenomena sekunder dalam 12 jam terakhir. Di antaranya gangguan medan magnet bumi dan peningkatan aktivitas petir vulkanik.

Fenomena tersebut terdeteksi melalui sensor yang berada di wilayah Lampung Selatan hingga Serang. Namun, intensitas gangguan tercatat lebih rendah dibandingkan ketika Gunung Anak Krakatau memasuki fase letusan awal.

Pemantauan terhadap kondisi Gunung Anak Krakatau dilakukan secara berkelanjutan selama 24 jam. BMKG menggabungkan berbagai peralatan pengukuran dan bekerja sama dengan PVMBG-Badan Geologi untuk menjaga ketepatan data serta mempercepat penyampaian informasi.

Pemerintah juga telah menyiapkan skema Operasi Modifikasi Cuaca untuk membantu mengurai dan menurunkan sebaran abu vulkanik menuju daratan.

Sementara itu, abu vulkanik menjadi perhatian serius terhadap keselamatan penerbangan. Dampaknya, operasional sementara delapan bandara dihentikan.

Delapan bandara yang terdampak adalah Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Bandara Radin Inten II di Lampung, serta Bandara Husein Sastranegara di Bandung.

Selain itu, penutupan sementara juga mencakup Bandara Budiarto di Curug, Tangerang; Bandara Pondok Cabe di Tangerang Selatan; Bandara Taufik Kiemas di Pesisir Barat, Lampung; dan Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam, Sumatera Selatan.

BMKG terus memperbarui informasi mengenai dampak erupsi dan perubahan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diminta tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan kewaspadaan.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Informasi mengenai perkembangan aktivitas gunung api dan dampaknya diimbau merujuk pada BMKG, PVMBG, serta instansi berwenang.

Abu vulkanik juga dapat mengganggu kesehatan sehingga masyarakat perlu melakukan perlindungan diri, terutama ketika berada di luar ruangan.

Saat beraktivitas di luar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker, terutama jenis N95 atau KN95, serta kacamata pelindung. Pakaian berlengan panjang juga dianjurkan untuk melindungi kulit.

Setelah kembali ke rumah, tubuh dan pakaian sebaiknya segera dibersihkan menggunakan air bersih. Jika mata terkena debu, jangan digosok. Mata dapat dibilas menggunakan air bersih atau obat tetes mata.

Untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah, pintu, jendela, dan celah ventilasi perlu ditutup rapat. Kipas angin, pendingin udara, atau alat pengatur suhu yang dapat menyedot udara dari luar juga disarankan untuk dimatikan.

Saat membersihkan abu, permukaan yang berdebu sebaiknya dibasahi terlebih dahulu. Cara tersebut diperlukan agar abu tidak kembali beterbangan.

Lantai dan perabotan dianjurkan dibersihkan menggunakan kain basah. Penyapuan dalam kondisi kering perlu dihindari. Abu yang telah dikumpulkan juga harus dimasukkan ke wadah tertutup dan tidak dibuang ke selokan atau saluran air.

Anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki asma, penyakit paru, atau penyakit jantung termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih. Mereka sebaiknya tidak keluar rumah kecuali dalam keadaan darurat.

Jika muncul sesak napas, batuk yang terus berlanjut, atau iritasi pada mata dan kulit, masyarakat diimbau segera mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan terdekat.

Di tengah status Siaga Gunung Anak Krakatau dan meluasnya dampak abu vulkanik terhadap penerbangan, masyarakat diminta tetap mengikuti perkembangan melalui kanal resmi pemerintah.

Data pemantauan menjadi acuan penting agar masyarakat tidak mengambil keputusan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi. (Red)

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini