BerandaOPINIKritik Sebagai Ekspresi Dari Apresiasi dan Kepedulian Yang Patut Pendapat Perhatikan

Kritik Sebagai Ekspresi Dari Apresiasi dan Kepedulian Yang Patut Pendapat Perhatikan

Jacob Ereste 

Beragam gaya fann cara memberikan kritik akan sangat tergantung pada banyak hal yang melatarbelakangi siapa saja yang melalukan kritik, kemudian untuk siapa kritik itu dilakukan, namun tak terlepas dari siapa saja yang ikut menikmati kritik itu, baik negatif maupun positif.

Sehingga beragam tafsir pun dari mereka yang merespon kritik yang dilontarkan itu juga akan terkesan negatif dan positif. Apalagi kritik itu diungkapkan dalam ruang publik yang terbuka.

Kritik lisan maupun melalui tulisan yang disampaikan di ruang terbuka, jadi terbuka pula untuk menuai beragam reaksi, tanggapan, atau bahkan serangan balik yang lebih keras dan menohok hati dan jantung.

Tapi juga sangat mungkin sebaliknya, karena disambut semacam pantun bersaut dalam tradisi Melayu yang khas.

Artinya, rak cuma kritik semata yang bisa dilakukan dengan pilihan nada dan suara, sesuai dengan kemampuan yang melakukannya, karena kritik dari seorang yang memiliki latar belakang sastra, pasti beda dengan kritik dari mereka yang ditempa oleh pendidikan di barak Tentara.

Demikian juga latar belakang pengeritik dari keluarga petani, pasti beda suara dan warna bahasa ucapnya ketika memberikan kritik yang mungkin saja tidak pernah menjadi bagian dari budaya keluarga yang tidak pernah dianggap penting dan perlu, kecuali sebatas sara yang selalu disampaikan secara informal atau bahkan dalam seloroh, gurauan serta candaan.

Jadi, ketika kritik diucapkan dalam intonasi kemarahan di lingkungan pendidikan, sungguh perlu disadari dan dipahami bisa meruntuhkan nilai-nilai pendidikan terkait dengan sopan santun, tata krama bahasa, karena bisa diserap oleh mereka yang masih sangat muda untuk memperoleh banyak energi intelektual untuk berkembang agar dapat menjadi generasi yang unggul dalam pengertian tidak hanya sebatas intelektualitas, tapi juga spiritualitas yang semakin mendesak untuk dikembangkan menjadi modal dasar pelandas hidup dan kehidupan agar tidak keblinger dan pongah mengandalkan ilmu, tanpa etika dan tatanan moral yang terbingkai dalam akhlak kemanusiaan yang khas dari fitrah manusia sebagai makhluk yang paling mulia di muka bumi.

Kritik itu baik, selama kita mampu melihatnya lebih positif dari kritik itu sendiri. Seperti sergahan Presiden Prabowo Subianto terhadap para pakar , karena saking pinternya jadi goblok, dapat dijadikan semacam peringatan untuk para pakar agar juga introspeksi diri, karena bisa saja kritik itu sangat baik dan perlu didengar oleh pemerintah, tapi cara saat menyampaikannnya tidak tepat, atau kemasan — bahasa ucap yang digunakan tidak cukup dianggap sopan.

Karena dalam budaya Jawa misalnya, sudah mengingatkan : “ngono ya ngono, ming ojo ngono”, jelas diperlukan tenggang rasa yang cukup bijak. Sebab tak semua detak irama jantung kita senada.

Mungkin cara terbaik menerima kritik — seperti apapun keras dan pedas — rasanya cukup didengarkan saja agar dapat lebih banyak didapat hikmahnya.

Terutama untuk melakukan perbaikan sekiranya memang ada yang kurang sempurna. Tapi lebih dari itu, menyimak semua kritik yang dilontarkan — sekiranya tidak perlu ditanggapi — memang akan lebih aman dan nyaman disimak saja apa dikatakan melalui kritik itu yang benar.

Sebab hanya cara yang bijak ini kita sebagai penerima kritik justru busa lebih banyak belajar dan sabar serta jujur mengakui kekurangan yang ada. Hingga dengan begitu, tingkat kejujuran.

kesabaran, obyektivitas serta kedewaan dalam menjaga dan membangun nalar yang sehat dapat terus bertumbuh dan semakin bijak.

Setidaknya, kritik yang dilakukan terhadap aktivitas, program hingga pekerjaan yang kita lakukan telah mendapat perhatian, respon, apresiasi, meskipun muatan negatifnya cukup banyak. Karena yang tidak kalah penting dari kritik yang harus kita terima itu, tidak memiliki dampak negatif lebih banyak bagi orang banyak. Misalnya terhadap kritik yang menyesatkan.

Sebab kritik yang baik itu perlu dibangun, dengan cara menerima kritik dengan akal yang lebih sehat, dari si pengeritik yang mungkin kita anggap nyinyir dan culas. Toh.

pada akhirnya akan dinilai oleh banyak orang yang mendengar atau yang membaca dalam bentuk kritik yang tertulis, sehingga bisa dibaca ulang — dikaji ulang — oleh generasi berikutnya, meskipun kritik itu dilakukan pada beberapa abad silam. Apalagi, kritik yang baru heboh dan viral kemarin.

Banten, 22 September 2026

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini