Cerpen
Perempuan yang Bangkit dari Luka: Sang Pusako Batin dari Tanah Minang
Oleh: Yelpi Nofitri,S.Pd
Di wilayah Pasaman Barat dan Sumatera Barat, secara umum kaum perempuan lebih dikenal melalui peran adat sebagai Bundo Kanduang (pemimpin perempuan dalam kaum) atau tokoh pejuang dan pendidik seperti Inyiak Upiak Palantiang yang mahir dalam tradisi dan pencak silat, daripada figure yang terkenal dengan ilmu spiritual atau kebatinan tertentu.
Suasana semilir subuh dan suara adzan mulai tenggelam ditelan pagi hari. Di desa Simpang Tigo Ophir, Seorang wanita yang bernama Puti Rajo Sakti sudah bersiap-siap meninggalkan rumahnya. Dengan pakaian yang rapi, paduan make up yang natural dan cerah yang tak mencolok, membuat tampilannya penuh semangat menuju sekolah tempat ia menajar. Tak lupa tas ransel yang selalu ia sandang di punggungnya, ia menuju sekolah SMP Swasta Cakrawala Nusantara dengan penuh semangat membantu tugas Negara, ya…Puti seorang guru yang mengajar PPKn di sekolah tersebut.
Ia hidup di zaman era modren. Di tangannya ada telepon genggam, di kepalanya tersimpan banyak cita-cita, tetapi hatinya justru dekat dengan sesuatu yang semakin jarang dicari manusia zaman ini: ketenangan batin dan ilmu spiritual.
Puti bukan perempuan yang hidup dalam kemewahan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia terbiasa mencari nafkah dengan tenaganya sendiri.
Pagi hari ia mengajar. Setelah itu, ia berdagang. Di sela kesibukannya, ia menjalankan pekerjaannya sebagai wartawan. Tiga dunia yang berbeda ia jalani hampir bersamaan.
Hari-harinya dimulai ketika sebagian orang masih terlelap dan berakhir ketika lampu-lampu rumah telah banyak dipadamkan.
Ia pergi pagi pulang malam. Dan tidak jarang, malamnya justru belum selesai.
Jika ada latihan silat, Puti akan mendatanginya. Jika gurunya mengaji atau mengajarkan zikir, ia akan duduk dengan khidmat, mendengarkan setiap nasihat yang diberikan.
Kadang ia baru meninggalkan tempat gurunya ketika malam sudah begitu larut.
Jalan pulang menjadi panjang dan sunyi. Di kiri-kanannya hanya pepohonan, rumah-rumah yang telah tertutup, serta jalan yang sesekali diterangi lampu kendaraan.
Sepulang dari tempat gurunya, Puti tidak langsung tidur seperti orang pada umumnya, Puti berkemas-kemas, mengganti baju, makan malam lagi, rehat sejenak. Lalu.. Puti mengambil wudhu, sholat sunat hajat dan dilanjutkan dengan wirid yang telah diajarkan oleh gurunya, Mbah Raka Wening. Mbah Raka Wening adalah guru spiritual Puti, ia masih muda, hitam manis dan berambut panjang. Lelaki muda yang mempunyai ilmu spiritual yang tinggi namun rendah hati.
Ia tak lupa membakar tiga batang dupa untuk menambah aroma wangi saat berzikir, sewaktu Puti berzikir, badannya terasa panas, tubuhnya sedikit bergetar, di telapak tangannya terasa seperti ada aliran listri.
Badan Puti pun sudah mulai lelah, tanpa sadar ia ketiduran di atas sajadah sampai subuh, badannya msih mengenakan mukena dan di tangannya masih memegang tasbih.
Suatu malam menuju ke rumah Mbah Raka Wening
Pada malam jum’at itu puti mengunjungi gurunya Mbah Raka Wening, Puti disambut oleh istrinya Mbah Raka Wening, “Bik, Puti mau ketemu Mbah, apakah mbah ada bik?” tanya Puti santai.
“ada Puti, kamu tunggu di ruangan tamu dula ya, mbahya lagi makan di dapur” jawab bik Sekar.
“baik bik” jawabku.
Setalah makan malam, mbah Raka menuju ruangan tamu, “sudah lama menunggu Put?” “tidak begitu lama, mbah” jawabku.
“ada apa ya Put, kamu mencari mbah malam-malam begini?”
“mmmhhh…. begini mbah, kemarin saat Puti wirid yang mbah ijazahkan itu, badan Puti terasa berkerinagat, panas, dan tangan Puti seperti ada aliran listrik”
“tidak apa-apa itu Puti, kamu jangan takut dan cemas, itu pertanda wiridmu sudah bagus, teruskanlah kau amalkan wirid yang pernah aku ajarkan, insyaaallah akan sangat bermanfaat bagi kehidupanmu suatu saat”.
Puti tenang dan seolah bertanya dalam hatinya…. tapi tidak tau pasti apa yang dimaksut gurunya, apakah dia akan menjadi seorang yang seperti gurunya atau hanya sekedar ikut wirid saja.
“baik, mbah” jawab Puti”.
Malam semakin larut, Puti pamit dari rumah gurunya, ia mengendari sepeda motor sendirian, rumah-rumah telah tertutup, lampu penduduk pun sudah mati, Puti hanya ditemani lampu kendaraan.
Saat Puti dalam perjalanan, tiba-tiba ada preman begal bermotor, mereka menghentikan dan mengepung Puti, mereka menggunakan senjata tajam, berpakaian hitam dan masker bak seperti dalam film laga.
Puti berhenti, dan tetap tenang, matanya tajam dan memandang lawan dengan tatapan mata pendekar, ia turun dari motor, dan tetap diam, dalam hati ia tetap membaca amalan dari gurunya, dan tiba-tiba si begal itu menjadi kaku badannya, jadi patung dan tidak bisa lagi bergerak. Puti mengunci gerak musuh dalam jiwanya dengan ilmu batin yang bernama Aji Wesi Angin.
Lalu Puti meneruskan perjalanan menuju pulang. Setelah sampai di rumah, ia membuka kembali kunci aji wesi angin.
Satu hari di sekolah Puti..
Cuaca panas pagi saat upacara bendera, Puti selalu mengikuti upacara bendera dengan disiplin, ia menertibkan anak-anak untuk segera berbaris yang rapi upacara dimulai dan selesaI. Saat kembali mengajar di kelasnya Puti mendapati muridnya yang tengah pingsan, ya anak tersebut pingsan saat sedang persentase materi pelajaran, Puti segera menghampiri anak tersebut.
Puti tidak langsung mengobati anak tersebut, karena ia tau itu adalah lingkungan sekolah, dan tidak mungkin Puti akan mengeluarkan ilmu spiritualnya, takutnya ada yang salah paham. Sudah hampir tiga puluh menit anak tersebut tidak bangun, kawan-kawan yang lain cemas, ada salah satu diantara mereka yang mengatakan bahwa kejadian ini pernah terjadi sebulumnya. Karena anak tersebut ada menderita sakit yang tidak tahu apa nama sakitnya.
Karena tidak ada yang bisa membantu, dan pada waktu itu jam mengajar Puti_ Puti lalu menyentuh tubuh anak muridnya tersebut, dimulai dari kepala, tangan dan sampai ujung kaki, dalam hatinya ia tetap membaca do’a sambil tarik nafas dan mengeluarkan tenaga dalam sehingga anak tersebut mulai sadarkan diri.
Setelah serasa mulai nyaman, Puti memberikan anak tersebut segelas air putih yang telah dibacakan do’a, dan ditransferkan energy ke dalam segelas air putih.
Bertahun-tahun sudah Puti mengikuti bimbingan gurunya, mulai dari ia remaja sampai ia menjadi dewasa, Puti adalah murid kesayangan gurunya, ia belajar ilmu spiritual dan mengikuti bimbingan gurunya tanpa dipungut biaya sedikit pun, karena Puti adalah seorang perempuan yang kurang beruntung dalam hidupnya, ia dulu selalu dizalimi oleh keluarga ayahnya, suami Puti dulu meninggal karena disantet oleh orang lain, dan mertuanya yang dulu adalah sosok yang pelit, manis mulut, dan tidak pernah menyukai Puti, karena Puti adalah anak yang kurang beruntung, ia tidak kaya, ia masih menumpang di rumah orangtuanya. Karena kehidupan Puti yang malang maka sang guru, Mbah Raka Wening memberikan bimbingan untuk Puti.
Saat pulang dari meliput berita….
Seperti biasa Puti berangkat kerja jam 09:00 pagi, ia mengendarai motor mio soul pemberian ayahnya, motor yang sudah cukup tua, motor yang biasa ia pakai kemana pergi. Perut Puti terasa lapar, ia tidak sempat memasak, sehingga Puti mampir di sebuah kantin untuk makan nasi soto, kantin tersebut tidak jauh dari tempat Puti bekerja. Seorang preman datang menghampiri Puti, “eh perempuan pendek kenapa kau pula yang duluan memesan, kami sudah dari tadi?” ucap lelaki berkulit hitam legam, mata merah, pakaian lusuh itu”
Puti pun menoleh kearah pria tersebut, dan pria tersebut menarik baju Puti, dan terjadilah pertengkaran antara Puti dan preman terserbut, pertengkaran sedikit sengit, Puti menangkis tendangan dan pukulan dari preman hitam itu dan membuat preman tersebut terpental ke tanah.
“hei kau preman berkulit legam, jangan sok jadi preman, seharusnya kau itu melindungi perempuan, bukannya kau ajak bertengkar, bagaimana kau nanti punya anak dan bini nanti, di luar perangai kau macam taik!!” ucap Puti. Sekali lagi kau buat seperti ini baik kepada orang lain, kupatahkan kakimu! Sambung Puti.
Orang-orang tercengang melihat Puti sang pemberani, ia perempuan yang sungguh luar biasay, tak nampak garang, tegas dari posturnya, tetapi bersengat macam singa kalau sudah disakiti. Puti kembali duduk di meja untuk menanti pesanannya, badan Puti sedikit berkeringat, ia makan nasi soto dan memesan segelas teh es. Setelah makan ia pun membayar pesanannya. “berpa mbak?” Tanya Puti. Nasi soto Rp. 15.000,- + teh es Rp. 5000 jadi Rp. 20.000 dek” jawab si mbak kantin.
Udara mulai meninggi di atas kepala, Puti melanjutkan perjalannya ke kantor, sesampai di kantor ia membersihkan kantor, dan menerbitkan berita terbaru. Hari itu temannya yang bernama Anna tidak datang, jadi Puti tidak sampai sore bekerja, dan Puti harus melakukan wawancara dengan kepala Kejaksaan mengenai masalah narkotika-kenakalan remaja.
Wawancara pun selesai, dan ia tetap harus bekerja mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari, sore pun telah tiba, ia mengajar bahasa inggris di salah satu tempat les dekat juga dari tempat ia bekerja, nama lesnya “Smart English Home” Puti menajar di sana dari jam setengah tiga sampai jam enam petang. Setelah dari situ Puti pun mengajar private, ia mengajar anak seorang anggota dewan di kota tempat Puti tinggal, dan pak dewan pun membayar mahal jasa Puti, dua juta rupiah sebulan untuk tiga kali pertemuan dalam seminggu.
Serangan gaib tiba-tiba datang….
Malam hari Puti mendapati chat dari gurunya mbah Raka Wening, ia harus latihan silat mala mini, latihan silat dimulai setelah sholat isya sampai pukul 12 malam.
Malam kali ini Puti tidak semangat latihan, karena dia banyak pikiran, gaji yan dibayarkan, BPJS yang masih menunggak tiga bulan, piutang belum diterima. Dan kehilangan pekerjaan.
Beberapa minggu Puti selalu begitu…hingga gurunya pun mendapati kelakuan Puti dari cermin gaib sang guru, ya mangkok putih yang diisikan air dan dibacakan do’a. Disebut juga ilmu Basirah Air.
Selepas dari latihan, Puti dipanggil oleh gurunya, “Puti, nanti ke rumah mbah ya!, “ baik mbah”. Jawab Puti dengan wajah sedikit cemas.
Puti datang ke rumah mbah Raka Wering, duduk dulu Puti”, mbah ambilkan air minum untukmu”. Puti pun mengangguk kecil.
“mbah lihat akhir-akhir ini kamu tidak fokus latihan, kamu hanya main-main saja.”
“tidak mbah” cuma lagi memikirkan sesuatu” dan Puti terdiam, wajahnya penuh beban hidup, Puti tidak bercerita apapun tentang masalahnya.
“Puti pulang dulu ya mbah, sudah larut malam kali” Puti pamit, lalu mencium tangan gurunya”.
Seperti biasa Puti pulang dengan sepeda motornya, malam makin gelap, pintu-pintu rumah sudah tertutup, udara yang cukup dingin, dan hujan pun datang tiba-tiba…Puti pun berhenti untuk mengambil mantel yang ada dalam jog motornya, ia memakai mantel….petir datang membuat Puti terkejut dan jantungan, dia tidak sadar bahwa ia berhenti dekat kuburan….kuburan yang angker…. Puti memandang sekeliling jalan, yang ada pepohonan, rumput dan kuburan, tiba-tiba Puti memandang ke arah pohon beringin, dan disamping pohon itu ada pohon durian, ia melihat sosok kuntilanak, berambut panjang, berpakai putih dan muka yang tak begitu jelas wajahnya.
Puti melanjutkan perjalanannya, jalan tanah yang sepi, ia mendengar suara lirih dibalik pohon, kuntilanak hi..hi…, seperti seorang yang sedang menangis, Puti berhenti, karena hatinya penasaran, perlahan hujan pun mulai reda, ia melihat bola api terbang ke atas rumah seorang warga kampung pojorahayu, namanya Pak Simin, Puti segera turun dari motor dan melihat bola api tadi menjadi ganda.
Puti berdiri sambil menyaksiskan bola api, dan suara lirih kuntlanak masih terdengar sakali-kali, sementara ia membaca do’a dalam hati ayat kursi 7 kali dan ilmu amalan rajah wisesa, hantu menjadi hilang seperti kabut yang lenyap diterpa angina dan bola api pun kembali ke si pembuat.
Malam yang panjang begitu melelahkan bagi Puti, seolah hari-harinya tak henti dari cobaan mistis dan kerumitan hidup di lapangan. Namun dia tetap tegap, berani, dan tidak pernah menyerah.
Sampai di rumah Puti menghela napas panjang, dan kecapean dengan rutinitas sehari-hari, ia mengambil air hangat kuku dan meminumnya langsung habis. Seketika Puti pun tertidur pulas.
Wasiat sang guru…
Hari ini Puti tidak bekerja, hari ini adalah hari kemerdekaan Negara Indonesia yang ke 80 tahun, Puti hanya di rumah saja, ia membersihkan kamar, rumah, halaman dan sudut lorong rumah, mepel lantai, mencuci kain, dan membersihkan kaca. Mulai dari pagi jam 08:00 pagi dan selesai sore jam 16:00.
Malam hari ia menonton tv, bersantai, dan membaca buku.
Jam 10:00 malam Puti pun tidur.
Ia bermimpi…bahwa gurunya berada di taman bunga yang indah, ia berpakaian serba putih dan sorban hijau di bahu.
Sosok Mbah Raka Wening…
Malam ini adalah acara pembaitan silat sabuk putih tingkat dua, Puti hadir lebih awal, ia melihat sosok bayangan samar, dengan ilmu batinnya, penampakan sosok lelaki berjubah putih dan sorban hijau.
Puti terdiam..
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang, sudah waktunya kamu mengetahui kebenaranya semuanya.
Puti berbalik…
Mbah Raka Wening berdiri di dekat gerbang latihan silat, namun kali ini penampilannya berbeda, ia mengenakan jubbah putih, jenggot putih panjang, sorban hijau dan memegang tasbih kayu nagosari kering yang selama ini ia sembunyikan.
Puti terkejut…
“Guru…siapa sebenarnya Guru?
Lelaki tua itu tersenyum.
“Namaku bukan Raka Wening.”
Ia berjalan mendekati Puti.
“Namaku Syekh Abdul Hakim.”
Puti terdiam…terpaku…
“Bearti guru selama ini Guru menyamar?”
“Benar.”
“Kenapa?”
Syekh Abdul Hakim menatap halaman padepokan dari jendela.
“Karena manusia sering menilai seseorang dari usia, pakaian, dan penampilan. Aku ingin mengetahui apakah murid-muridku menghormati ilmu atau hanya menghormati orang yang terlihat tua.”
Puti menundukkan kepala.
“Jadi semua ini hanya ujian?”
“Bukan hanya ujian,” jawab sang guru. “Ini adalah pelajaran.”
Ilmu Sang Guru
Syekh Abdul Hakim kemudian mengajarkan kepada Puti bahwa ilmu yang paling tinggi bukanlah kemampuan mengalahkan orang lain.
Ia menguasai silat, ilmu pernapasan, pengobatan tradisional, strategi, filsafat, dan berbagai pengetahuan kehidupan.
Namun ia selalu mengatakan:
“Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin rendah hatinya.”
Fajar bertanya,
“Kalau begitu, Guru tidak takut ada orang yang lebih kuat?”
Syekh Abdul Hakim tersenyum.
“Orang yang benar-benar kuat tidak sibuk membuktikan bahwa dirinya kuat.”
Sejak malam itu, Fajar melihat gurunya dengan cara yang berbeda.
Ia akhirnya memahami bahwa selama ini sang guru bukan sedang berusaha terlihat muda.
Ia sedang mencari murid yang mampu melihat manusia dari ilmu dan akhlaknya, bukan dari wajah dan usianya.
Dan sejak saat itu, sebuah perjalanan baru dimulai.
Perjalanan Fajar untuk memahami rahasia Padepokan Satria Wening—serta masa lalu sang guru yang ternyata jauh lebih misterius daripada yang pernah ia bayangkan.
Gurunya menjelaskan semuanya, bahwa ia adalah sosok Syeh Abdul Hakim dari padepokan Satria Wening, yang menguasai berbagai aliran silat jawa dan minang.
***





