BerandaDAERAHPenderitaan Banyi, Gadis Tunawicara Warga Tanjung Sari Kabupaten Bogor 18 Oktober 2025

Penderitaan Banyi, Gadis Tunawicara Warga Tanjung Sari Kabupaten Bogor 18 Oktober 2025

Bogor | Mikanews : Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang sudah modern, di Kabupaten Bogor masih ada kisah pilu yang menyayat hati. Banyi, seorang gadis cantik berusia 33 tahun yang menyandang tunawicara, harus berjuang seorang diri melawan kerasnya hidup di sebuah gubuk reyot di Kampung Gunung Haur, RT 009 RW 005, Desa Tanjungsari, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor.

Keterbatasan yang dimilikinya tak menghalanginya untuk mencari nafkah. Setiap hari, Banyi menjelajah kebun-kebun liar untuk mencari kembang harendong, yang kemudian dijualnya ke warung-warung demi sesuap nasi.

Penghasilan yang tak seberapa itu menjadi satu-satunya tumpuan hidupnya.

Tamparan keras untuk Pemerintah Kab Bogor, pada saat gencar-gencarnya membangun kabupaten yang istimewa dan berwibawa masih ada warga yang menderita hidup di gubuk reyot.

Kita masih bisa menikmati makanan dan minuman yang layak serta memiliki penghasilan yang baik, Banyi harus berjuang mati-matian untuk sekadar bertahan hidup. Kita seringkali lupa untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan.

Baca Juga : Ketua DANRI Sultan Sepuh Pangeran Heru: 1 Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran Menjadi Awal Kebangkitan Nasional Menuju Indonesia Emas

Eneng Siti Robiah, salah seorang tetangga Banyi, menuturkan bahwa Banyi tinggal seorang diri di rumah warisan orang tuanya.

Banyi memiliki saudara, namun mereka tinggal berjauhan. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Banyi mencari daun sayuran dan harendong untuk dijual ke warung-warung langganannya.

Sementara itu, Ketua RT setempat, Udung membenarkan bahwa Banyi adalah salah satu warganya yang hidup sebatang kara di rumah yang tidak layak huni.

“Dikhawatirkan rumah tersebut akan roboh jika hujan deras mengguyur, karena kondisinya yang sudah sangat memprihatinkan. Saya berharap agar Pemerintah kabupaten Bogor sudi kiranya memperhatikan warganya,”ungkap Udung.

Kisah Banyi ini mengetuk hati kita semua. Semoga pemerintah desa, bupati, dan gubernur tergerak untuk turun langsung ke lapangan dan memberikan perhatian kepada masyarakat miskin dan lemah secara ekonomi seperti Banyi.

Uluran tangan dari para dermawan juga sangat diharapkan untuk meringankan beban hidup Banyi. (EA)

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini