Pandeglang | mikanews — Pencarian Arupadhatu 1 yang hilang kontak di perairan Selat Sunda diperluas hingga mencakup enam sektor dengan total area mencapai 6.010 mil persegi.
Perluasan wilayah pencarian dilakukan setelah Tim SAR Gabungan menemukan sejumlah barang terapung di kawasan selatan Gunung Anak Krakatau. Temuan tersebut menjadi petunjuk baru, meski belum dipastikan memiliki kaitan langsung dengan kapal cepat yang hingga kini belum ditemukan.
Ahli Muda Bidang Kecelakaan Pelayaran dan Penerbangan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Rangga Aribowo, mengatakan wilayah operasi kini dibagi menjadi enam sektor.
Lima sektor, yakni V, W, X, Y, dan Z, disisir melalui jalur laut. Satu sektor lainnya dipantau dari udara untuk memperluas jangkauan pencarian.
Langkah tersebut dilakukan setelah KN SAR Tetuka menyisir titik-titik koordinat yang diduga berada di jalur perjalanan Arupadhatu 1. Penyisiran berlangsung selama sekitar 10 jam.
Dalam operasi pada Sabtu, 12 September 2026, tim menemukan beberapa benda terapung.
Juru bicara Basarnas Banten, Al Amrad, menjelaskan temuan pertama terjadi pada pukul 10.05 WIB. Tim menemukan sebuah jerigen minyak berwarna biru.
Penyisiran kemudian dilanjutkan. Pada siang hari, tim menemukan helm berwarna merah yang mengapung di tengah laut.
Menjelang petang, dua jaket pelampung berwarna oranye kembali ditemukan. Kedua jaket tersebut ditemukan dengan selang waktu sekitar satu jam.
Temuan terakhir tercatat pada pukul 18.09 WIB. Meski menjadi perkembangan penting dalam pencarian, Basarnas belum memastikan bahwa barang-barang tersebut berasal dari Arupadhatu 1 atau berkaitan dengan delapan orang yang berada di dalam kapal.

“Kami masih melakukan identifikasi mendalam untuk memastikan asal-usul dan pemiliknya,” kata Al Amrad.
Seluruh barang yang ditemukan telah dibawa ke posko utama di Pandeglang. Temuan tersebut akan digunakan sebagai bahan evaluasi untuk menentukan langkah pencarian berikutnya.
Strategi operasi kini menggabungkan pemantauan udara menggunakan helikopter dengan penyisiran melalui armada laut. Kombinasi tersebut ditujukan untuk menjangkau wilayah perairan yang lebih luas, termasuk area yang sulit disisir melalui jalur laut.
Peristiwa hilangnya Arupadhatu 1 bermula pada Senin, 7 September 2026. Kapal cepat tersebut berangkat dari Dermaga Pegedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Sebanyak delapan orang berada di dalam kapal tersebut. Lima di antaranya merupakan jurnalis, yaitu M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu, serta wartawan lepas Donal Husni.
Tiga orang lainnya adalah nakhoda Warta, awak kapal Surakman, dan pemandu lokal Heriyanto.
Komunikasi dengan Arupadhatu 1 terputus tidak lama setelah kapal meninggalkan pelabuhan.
Sejak kehilangan kontak tersebut, Tim SAR Gabungan terus melakukan pencarian untuk menemukan kapal dan seluruh orang yang berada di dalamnya.
Perluasan area menjadi enam sektor dengan cakupan 6.010 mil persegi menunjukkan pencarian kini dilakukan dengan jangkauan yang lebih luas. Namun, keberadaan Arupadhatu 1 maupun delapan orang di dalamnya masih belum diketahui.
Temuan jerigen, helm, dan dua jaket pelampung menjadi bagian dari petunjuk yang sedang diperiksa. Kepastian mengenai asal barang-barang tersebut masih menunggu hasil identifikasi.
Operasi pencarian pun terus dilanjutkan melalui jalur laut dan udara dengan mengerahkan sumber daya yang tersedia untuk menemukan jejak Arupadhatu 1 dan memastikan keberadaan seluruh penumpangnya. (Red)





