BerandaOPINIKetika Kejujuran Harus Pergi Dari Istana

Ketika Kejujuran Harus Pergi Dari Istana

Ketika Kejujuran Harus Pergi Dari Istana

Oleh: ZOELNASTI

Bayang-bayang di Balik Angka Gerbang Istana

Malam semakin larut, namun pelita di pendopo Kepatihan masih menyala remang.
Di ruang kerja Bendahara Kerajaan, Sadewa duduk memandangi tumpukan gulungan naskah di atas meja kayu jati tua.
Satu gulungan tebal disegel dengan lilin merah, bertanda:

“Sangat Rahasia — Hanya untuk Diketahui Raja.”

Isinya: rincian harta yang hilang dari perbendaharaan negeri, pajak yang dikumpulkan rakyat namun tak sampai ke kas kerajaan, dan nama-nama para penguasa wilayah yang selama ini bersembunyi di balik angka-angka laporan pendapatan.

Pintu geser terbuka perlahan. Seorang lelaki berbusana mewah melangkah masuk.
Langkahnya halus, namun matanya tajam seperti mata elang yang mengintai mangsa.
Ia adalah Kumbakarna, titipan sang Taipan sebagai penasihat raja yang memiliki pengaruh luar biasa di balik singgasana.

“Masih terjaga, Bendahara Agung?” suaranya rendah, namun menimbulkan getar yang tak kasat mata.

Sadewa tidak menoleh. Ia tahu siapa yang datang.
“Kau tidak seharusnya melintasi halaman ini pada jam begini, Kumbakarna.”

“Ada hal yang lebih penting daripada waktu istirahat. Angka-angka yang kau temukan di laporan perbendaharaan itu… sebaiknya tetap berada di dalam gulungan itu. Jangan dibuka. Jangan dibaca siapa pun.”

Sadewa meletakkan pena bulu burung merak perlahan, lalu berbalik menatap tamunya.
“Kau memintaku membutakan mata terhadap ratusan kawan emas yang hilang dari lumbung negara?”

“Kita menyebutnya ‘penempatan sementara’. Bukan hilang. Harta itu berputar untuk kepentingan yang lebih besar — menjaga kestabilan kerajaan, menjaga para adipati tetap setia pada singgasana,” jawab Kumbakarna, suaranya kini lebih berat.

“Kestabilan kerajaan tidak dibangun di atas kebohongan. Kesejahteraan rakyat tidak boleh dikorupsi atas nama kesetiaan,” ujar Sadewa, suaranya tenang namun teguh seperti gunung.

“Jangan terlalu tinggi menancapkan panahmu, Sadewa. Kau tahu siapa yang berdiri di belakang nama-nama itu. Mereka bukan musuh yang bisa kau hadapi sendirian. Pikirkan keluarga. Pikirkan keselamatanmu sendiri.”

Sadewa berdiri tegak.
“Itu ancaman?”

“Itu peringatan. Sebelum kau terjatuh terlalu dalam.” Kumbakarna berbalik, berhenti sejenak di ambang pintu.
“Raja sedang tidak sehat. Banyak hal yang diputuskan tanpa beliau ketahui sepenuhnya. Jabatanmu itu rapuh. Bisa saja besok pagi kau tidak lagi duduk di tempat ini.”

Pintu tertutup. Sadewa kembali duduk.
Ia membuka gulungan itu, lalu menandatanganinya, bukan untuk disembunyikan, melainkan untuk diserahkan langsung kepada Raja besok pagi, sebelum matahari terbit.

Pertemuan di Balik Tabir Singgasana

Tiga hari kemudian. Ruang sidang terbatas di dalam istana. Udara terasa sesak, seolah dinding-dinding batu ikut menahan napas.
Di kursi utama, Raja Destarata duduk dengan wajah lesu. Matanya menatap kosong ke depan, sementara di sebelahnya berdiri Kumbakarna yang sesekali berbisik ke telinga raja.

Di sepanjang meja, duduk para menteri yang sebagian besar adalah orang-orang titipan para Taipan penguasa daerah yang berkuasa.

Sadewa duduk di ujung, menyadari bahwa ia kini adalah satu-satunya suara yang tidak tunduk pada bayang-bayang kekuasaan.

Raja berbicara dengan suara lemah.
“Kita membahas usulan penyetoran harta dari persekutuan pedagang besar ke kas kerajaan. Sadewa, apa catatanmu?”

Sadewa membuka gulungannya. “Angka yang diusulkan tidak memiliki dasar yang sah. Asal hartanya tidak jelas. Jika dipaksakan, ini membuka pintu lebar-lebar bagi penjarahan yang terhormat. Saya tidak dapat memberikan persetujuan saya.”

Salah satu adipati yang duduk di seberang meja tertawa sinis. “Kau tahu apa konsekuensinya? Pembangunan terhenti. Rakyat menderita. Dan Raja yang akan disalahkan karena lambatnya kemajuan negeri ini.”

“Rakyat tidak menderita karena kejujuran. Rakyat menderita ketika harta mereka dikuras atas nama pembangunan yang tidak pernah ada,” jawab Sadewa tenang namun tajam.

“Kau menuduh kami pencuri?” bentak adipati itu, tangannya mencengkeram lengan kursi.

“Saya menyatakan bahwa prosedur ini cacat. Dan saya tidak akan menjadi bagian dari kesalahan kerajaan.”

Kumbakarna menyela dengan nada yang lembut namun mematikan:
“Mungkin Bendahara Agung sedang lelah. Butuh waktu untuk beristirahat. Kita butuh orang yang lebih… memahami kebutuhan mendesak negara ini.”

Sadewa menatap Raja.
Ia berharap ada secercah keberanian di mata raja itu. Namun Raja hanya menunduk. Kekuasaannya bukan di tangannya.

Ia adalah raja yang dicintai rakyat, namun terpenjara oleh mereka yang memegang benang-benang kekuasaan. Semua keputusan telah dirancang sebelumnya di ruang-ruang tertutup, jauh dari singgasana.

Titah yang Dipaksakan

Senin pagi. Sadewa dipanggil ke ruang pribadi Raja.
Di atas meja kayu jati, tergeletak lembaran titah kerajaan.

Raja Destarata menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Sadewa… kau adalah menteri paling jujur yang pernah saya miliki. Tapi kejujuranmu membuat mereka takut. Mereka mengancam akan mengacaukan seluruh negeri jika kau tetap di sini. Tekanan ini… terlalu berat bagi saya.”

Sadewa menunduk hormat. “Saya mengerti, Baginda. Kebenaran memang sering kali tidak diinginkan oleh mereka yang hidup dalam kegelapan.”

“Mereka tidak berani menuduhmu apa-apa. Karena mereka tahu kau tidak bersalah. Maka mereka hanya memintamu pergi. Titah ini menyatakan penggantianmu ‘untuk kepentingan dinas yang lebih luas’. Tidak ada catatan buruk. Tidak ada aib. Hanya… kepergian.”

Raja menyodorkan lembaran itu dengan tangan gemetar.
“Kau masih bisa tetap diam. Tetaplah di istana. Tutup matamu. Semua akan baik-baik saja. Demi ketenangan kerajaan, saya mohon padamu…”

Sadewa mengambil titah itu.
Ia membacanya perlahan, lalu melipatnya dengan hormat.

“Baginda, jika saya diam, maka kejahatan itu menang. Jika saya diusir karena saya jujur, maka sayalah yang sebenarnya menang. Karena mereka takut hanya dengan kehadiran saya saja. Biarkan saya pergi. Selama kebenaran masih hidup, kerajaan ini masih punya harapan.”

Langkah keluar dari gerbang istana terasa berat namun hatinya terasa ringan.
Tidak ada kereta kencana yang menunggunya.
Namun ketika ia melangkah keluar, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Di sepanjang jalan menuju gerbang luar, warga berdiri berjejer, petani, pedagang, pengrajin, mereka yang tak pernah diizinkan melintasi halaman istana.

Mereka tidak berbicara.
Hanya menunduk hormat, lalu menatapnya dengan mata yang berbinar, seolah-olah cahaya kecil telah menyala di dada mereka.

Sadewa terhenti. Seorang nenek tua maju perlahan, menyodorkan seikat bunga sederhana. “Kehormatanmu tidak diambil oleh mereka, Tuan Bendahara. Justru kini… kehormatan itu menjadi milik kami.”

Sadewa menerima pemberian itu.
Matanya berkaca, namun ia tersenyum.
Di saat itulah ia menyadari satu hal: mereka mungkin telah mencabut jabatannya, tetapi mereka tidak pernah memiliki kekuatan untuk mencabut kepercayaan rakyat.

Dari menara istana, Kumbakarna melihat kepergiannya.
Sebuah kerut halus muncul di dahinya.
Kemenangan yang ia rasakan tadi, tiba-tiba terasa hampa.
Ia melihat sorot mata rakyat itu dan di sanalah letak bahaya yang sesungguhnya.

Sadewa naik ke atas kereta kudanya.
Ia tidak menoleh ke belakang menuju istana, melainkan menatap lurus ke depan, ke arah cakrawala tempat matahari pagi sedang naik.

Bukan berarti berhenti. Melainkan: cukup berjuang di ruang yang sempit itu.
Kini medanmu lebih luas, dan sekutumu lebih banyak dari yang kau kira.

“Perang belum selesai,” bisiknya pada angin pagi yang menerpa wajahnya.

“Medan laga hanya berpindah — dari ruang rapat tertutup, ke hati rakyat yang terbuka. Dan di sanalah kebenaran akan berakar, tumbuh, dan pada waktunya… tak seorang pun mampu mencabutnya.”

Kereta itu melaju perlahan menjauh.
Di balik tembok istana yang dingin, mereka mungkin berpikir telah memenangkan hari ini. Namun di jalanan, di ladang, di rumah-rumah sederhana rakyat jelata, sebuah tekad baru baru saja lahir, lahir dari kepergian seorang ksatria yang memilih kehilangan jabatan daripada kehilangan dirinya sendiri.

Matahari terbit semakin tinggi. Cahayanya menyinari jalan yang tak beraspal, namun lurus ke depan, meski mereka telah mencabut jabatannya, tetapi mereka tidak pernah memiliki kekuatan untuk mencabut kepercayaan rakyat.

Giri Maju, 15 September 2026

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini