JAKARTA, Mikanews.id — BNPB akan memperkuat komunikasi dengan masyarakat sebelum menggunakan sumber air milik warga untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Langkah tersebut menjadi perhatian setelah helikopter water bombing mengambil air dari kolam ikan milik warga di Desa Cindai Alus, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan komunikasi dan koordinasi di lapangan akan lebih dikedepankan sebelum sumber air milik masyarakat digunakan.
“Ke depan kami akan mengedepankan komunikasi dan koordinasi di tingkat lapangan sebelum air kolam dimanfaatkan,” kata Berton dalam konferensi pers daring, Minggu (30/8/2026).
Pernyataan itu disampaikan setelah pemilik kolam menyampaikan keberatan karena air kolam pemancingannya digunakan untuk mendukung pemadaman karhutla.
BNPB kemudian melakukan komunikasi secara kekeluargaan dengan pemilik kolam. Berton mengatakan pihaknya memahami kekhawatiran masyarakat terhadap penggunaan air dari kolam ikan warga.
Menurut BNPB, penggunaan sumber air tersebut dilakukan untuk membantu memadamkan kebakaran di lahan yang terbakar. Namun, pengalaman di Kabupaten Banjar menjadi bahan evaluasi agar koordinasi dengan warga dilakukan lebih dahulu.
BNPB siagakan 53 armada
Di tengah persoalan tersebut, BNPB tetap melakukan operasi pemadaman karhutla di sejumlah wilayah.
Pada Minggu (30/8/2026), pemerintah menyiagakan 53 armada untuk mendukung penanganan karhutla. Jumlah itu bertambah satu armada dibandingkan sebelumnya yang mencapai 52 armada.
Dari jumlah tersebut, 13 armada udara digunakan untuk patroli dan operasi modifikasi cuaca. Sementara itu, 34 armada lainnya digunakan untuk operasi penyebaran air dari udara atau water bombing.
BNPB juga mencatat telah menyebarkan sekitar 3,2 juta liter air melalui operasi water bombing pada Sabtu (29/8/2026).
Operasi tersebut dilakukan di enam wilayah, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
OMC dilakukan di tiga provinsi
Selain pemadaman langsung, BNPB juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Sebanyak 3.800 kilogram garam disemai ke atmosfer di wilayah Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat pada akhir pekan.
Berton menjelaskan, penyemaian garam dilakukan karena terdapat bibit-bibit awan di atmosfer di tiga provinsi tersebut.
Sementara itu, untuk wilayah lainnya, BNPB belum memperoleh informasi mengenai keberadaan kondisi awan yang dapat mendukung pelaksanaan OMC dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kolam warga digunakan untuk water bombing
Penggunaan kolam ikan warga terjadi ketika helikopter water bombing membutuhkan sumber air untuk mendukung pemadaman karhutla di Kalimantan Selatan.
Kolam tersebut merupakan milik warga bernama Ahmad Jailani di Desa Cindai Alus, Martapura, Kabupaten Banjar.
Jailani mengatakan helikopter mengambil air dari kolam miliknya pada Kamis (27/8/2026). Pengambilan air tersebut disebut berlangsung beberapa kali.
Akibatnya, debit air kolam mengalami penurunan secara drastis.
Padahal, kolam tersebut digunakan untuk membudidayakan ikan dengan jumlah sekitar 2 ton dan terdiri dari berbagai jenis ikan.
Jailani bersama sejumlah pekerjanya sempat memberikan tanda kepada helikopter agar tidak mengambil air dari kolam tersebut.
Namun, menurut Jailani, tanda tersebut tidak diindahkan sehingga helikopter tetap mengambil air dari kolam.
“Sudah kita kasih kode agar jangan mengambilnya di kolam ini. Namun, mereka tetap mengambilnya,” ujar Jailani.
Peristiwa tersebut kemudian mendapat perhatian karena penggunaan air kolam berdampak pada kondisi ikan yang dibudidayakan warga.
BNPB menyatakan akan mengedepankan komunikasi dan koordinasi di lapangan sebelum menggunakan sumber air milik masyarakat dalam operasi pemadaman karhutla.
Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah munculnya persoalan serupa ketika operasi pemadaman kebakaran membutuhkan sumber air dari fasilitas milik warga.(red)
Sumber: Kompas.Com





