Jakarta | Mikanews : Penanganan sampah di Indonesia kini tak lagi sekadar soal pembuangan, melainkan mulai diarahkan menjadi aset bernilai guna mendukung peralihan energi nasional.
Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri turut memperkuat arah kebijakan ini, khususnya melalui pengembangan teknologi Waste-to-Energy (WtE) serta bahan bakar turunan sampah atau Refuse-Derived Fuel (RDF).
Upaya ini dibahas mendalam dalam rapat bertajuk SIPA Legacy and Way Forward: Pengelolaan Sampah Hulu-Hilir dan Kontribusi pada Transisi Energi, yang digelar beberapa waktu lalu di Ruang Benny S. Muljana, Kementerian PPN/Bappenas.
Acara yang berlangsung secara hybrid ini dibuka oleh Deputi Bidang Infrastruktur Bappenas, serta dihadiri perwakilan Kementerian PUPR, Kemendagri, KLH, Kementerian ESDM, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan Dinas Lingkungan Hidup Cilacap.
Dari Kemendagri, kehadiran disampaikan oleh Perencana Ahli Muda Anita Putri Rahayu.
Tentang Program SIPA dan Tantangan ke Depan;
Pertemuan ini menjadi bagian dari Program Infrastruktur Berkelanjutan di Asia atau Sustainable Infrastructure Programme in Asia (SIPA), kerja sama antara Bappenas dengan UNDP Indonesia sejak tahun 2024 yang diinisiasi bersama OECD.
Para peserta sepakat bahwa capaian dari program ini tidak boleh berhenti begitu saja setelah masa pelaksanaan selesai.
Sebaliknya, seluruh hasil kajian akan dijadikan dasar penyusunan kebijakan berbasis data yang nyata.
Sejumlah tantangan utama yang masih harus diselesaikan meliputi penguatan aspek kelembagaan, kelayakan pola usaha, kesiapan sarana prasarana, serta kepastian permintaan dari pihak industri sebagai pengguna akhir hasil olahan sampah.
Dua Jalur Teknologi dan Potensi Nilai Ekonomi;
Dalam sesi dialog eksekutif, Kementerian ESDM menjelaskan telah membentuk unit khusus di bawah Direktorat Energi Baru yang menangani konversi sampah menjadi energi.
Langkah ini diambil sebagai respons atas kondisi darurat sampah yang masih banyak mencemari sungai hingga laut.
Pendekatan pengolahan dibagi menjadi dua skala:
untuk volume besar akan memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL), sedangkan skala menengah menggunakan metode pirolisis.
Teknik ini dapat mengolah hampir semua jenis sampah yang telah melalui tahap pengendapan dan pemilahan—seperti mengubah plastik menjadi minyak, sementara sisa lainnya dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
Proses pirolisis diketahui menghasilkan empat produk bernilai ekonomi tinggi:
arang hayati, gas, minyak yang diolah menjadi nafta, serta minyak bakar.
Saat ini, selain fasilitas yang sudah berjalan di Benowo, enam kota lain sedang dipersiapkan penerapan teknologi serupa dengan sasaran utama penghasilan Bahan Bakar Minyak Terbarukan (BBMT).
Tantangan di Lapangan: Persepsi dan Pasar
Sementara itu, perwakilan Pemprov DKI Jakarta menyampaikan kendala unik yang dihadapi di wilayahnya.
Masyarakat masih cenderung menolak istilah “sampah”, sehingga diperlukan pendekatan penyampaian yang lebih positif dan mendidik.
Selain itu, pemanfaatan gas metana sebagai pengganti LPG masih terhambat kepastian regulasi, sementara tumpukan sampah organik seperti ranting dan daun yang sudah diolah menjadi kompos belum memiliki penyerap yang memadai.
Seluruh pihak berkomitmen menyatukan langkah untuk menyelesaikan hambatan ini, agar pengelolaan sampah berkelanjutan benar-benar menjadi jembatan yang menghubungkan penanganan limbah dengan target energi nasional yang lebih bersih dan mandiri.
(Red)





