Sepuluh Jam di Bawah Terik, Satu Janji yang Membisu
Matahari baru saja mengintip malu-malu di ufuk timur, pukul 05.15 pagi. Harianto sudah memanaskan mesin mobilnya di depan SPBU Batang Lingkin.
Di sakunya terselip uang pas untuk membeli pertalite, dan di kepalanya berderet tugas yang harus diselesaikan hari itu: mengantar anak ke sekolah, belanja kebutuhan dapur, lalu bergegas ke tempat kerja. Ia percaya motto yang sering didengar dari bupatinya saat kampanye dulu: Bergerak, Berdampak. Pikirnya, hari ini pasti akan berjalan lancar.
Namun harapan itu perlahan luruh seiring terik yang mulai membakar aspal.
Jam menunjukkan pukul 07.15, antrean belum bergerak sejengkal. Barisan kendaraan sudah mengular hingga dua ratus meter jauhnya, sampai ke depan Masjid Taqwa Bancah Talang.
Orang-orang turun dari mobil, duduk di pinggir jalan, mengipasi badan dengan topi, bertukar pandang penuh tanya. Ada ibu-ibu yang menahan tangis karena harus segera menjemput anak, ada petani yang sayurannya akan layu di dalam bak mobil, ada pegawai yang sudah telat masuk kantor.
“Sudah berapa lama Pak berdiri di sini?” tanya seorang warga yang baru datang.
“Sudah dua jam, Nak. Sepertinya hari ini panjang sekali,” jawab Harianto dengan senyum yang mulai pudar.
Karena tak kunjung maju, warga itu mencoba peruntungan di SPBU Batang Toman. Namun di sana, gerbang tertutup rapat oleh deretan truk tangki. Petugas polisi yang berjaga hanya menggeleng pasrah: “Pertalite baru dibuka pukul tiga sore, Pak. Sedang ada perluasan.”
Pulang dengan tangan hampa, ia kembali menghubungi Harianto. Pukul 11.15, enam jam sudah berlalu. Harianto masih di tempat yang sama. Wajahnya kini tak lagi tersenyum.
Puncak penantian itu baru usai pukul 15.00 sore. Sepuluh jam. Sepuluh jam waktu yang seharusnya ia pakai untuk bekerja, mencari nafkah, dan bercengkrama dengan keluarga, habis hanya untuk menunggu satu liter bahan bakar yang menjadi haknya.
Namun yang paling perih bukanlah lama menunggu. Melainkan apa yang terlihat jelas di depan mata.
Saat barisan rakyat kecil terpaku diam, sejumlah mobil Kijang berwarna gelap melaju santai dari arah berlawanan. Tanpa berhenti, tanpa ditanya, mereka membelah antrean bagai raja yang lewat di hadapan rakyat jelata.
Masuk, isi bensin penuh, lalu keluar kembali. Lagi, dan lagi. Orang-orang menyebut mereka pelansir. Mereka membawa bahan bakar subsidi itu entah ke mana, untuk dijual kembali dengan harga yang jauh lebih mahal.
Di sisi lain, petugas keamanan yang seharusnya melindungi hak rakyat hanya diam membisu. Mata melihat, mulut terkunci. Tak ada teriakan, tak ada larangan, tak ada tindakan.
“Kenapa mereka boleh lewat dan kami tidak?” tanya seorang pemuda dengan suara bergetar menahan amarah.
Tak ada yang menjawab. Hanya suara mesin mobil para pelansir yang menjawab dengan angkuh.
Harianto pulang dengan badan lemas dan hati yang hancur. Ia teringat kembali janji besar yang disampaikan di atas panggung kampanye: Bergerak, Berdampak.
Ia bergumam lirih pada langit Pasaman Barat:
“Pak Bupati, Bapak bilang kita harus bergerak agar berdampak. Tapi gerakan kami hanya berhenti di antrean bensin. Dampak yang kami rasakan hanya rugi waktu, rugi tenaga, dan hati yang sakit melihat ketidakadilan. Apakah motto itu hanya kata-kata manis yang terbang terbawa angin? Mengapa kenyataannya nol besar?”
Rakyat tidak meminta keajaiban. Mereka hanya ingin bisa menjalani hari dengan tenang. Tidak perlu mengorbankan seharian hanya untuk hal yang seharusnya mudah. Mereka ingin merasa aman, nyaman, dan adil.
Pemerintah dan aparat penegak hukum, inilah saatnya membuktikan kehadiran. Jangan biarkan waktu rakyat terbuang sia-sia hanya karena ketidakpedulian atau kelalaian.
Kata-kata manis tak bisa menghapus rasa lelah sepuluh jam menunggu. Tindakan nyata lah yang bisa mengembalikan senyum mereka.
Karena janji tanpa bukti, hanyalah suara kosong.





