BerandaTRENDING TOPIKTidak Pergi, Tidak Menyerah: Hidup Pak Kelih Setelah Relokasi Pasar Ngasem

Tidak Pergi, Tidak Menyerah: Hidup Pak Kelih Setelah Relokasi Pasar Ngasem

Pagi belum sepenuhnya ramai ketika Rohmad Wiyono, yang biasa dipanggil dengan nama Pak Kelih, duduk di depan lapak kecilnya di kawasan Pasar Ngasem, Yogyakarta.

Beberapa sangkar burung tergantung rapi di atas kepalanya, sebagian lain tampak kosong tanpa penghuni.

Di depannya, kendaraan lalu lalang menuju kawasan wisata kuliner yang kini mendominasi Ngasem. Tidak banyak orang berhenti di lapaknya, meski kawasan itu terlihat padat oleh pengunjung.

Lelaki berusia 60 tahun yang akrab disapa Pak Kelih itu tetap duduk tenang, menunggu pembeli seperti yang ia lakukan sejak puluhan tahun lalu.

Pasar Ngasem pernah dikenal sebagai pusat perdagangan burung di Yogyakarta. Kicau burung dari berbagai jenis menjadi suara khas yang menandai denyut ekonomi kawasan tersebut.

Aktivitas jual beli burung menjadi bagian penting dari kehidupan warga sekitar. Namun sejak relokasi pasar burung pada 2010, wajah Ngasem berubah secara perlahan.

Kawasan yang dulu identik dengan perdagangan burung kini berkembang menjadi sentra wisata kuliner.

Perubahan fungsi kawasan itu membawa dampak besar bagi para pedagang lama. Tidak semua pedagang mampu mengikuti relokasi ke tempat baru.

Sebagian memilih mencari pekerjaan lain demi bertahan hidup, namun ada pula yang tetap bertahan di kawasan lama. Pak Kelih menjadi salah satu pedagang yang memilih jalan tersebut.

Disaat sebagian besar pedagang burung pindah ke lokasi baru, Pak Kelih tetap membuka lapak di Ngasem. Keputusan itu bukan tanpa alasan.  Ngasem bukan sekadar tempat berdagang baginya.

Kawasan ini telah menjadi ruang hidup selama puluhan tahun. Di sanalah ia membangun kehidupannya bersama keluarga.

“Pasar Ngasem itu sudah di luar hati saya,” ujar Pak Kelih pelan. Kalimat sederhana itu menggambarkan keterikatan emosionalnya dengan pasar.

Baginya, pasar bukan hanya ruang ekonomi. Pasar juga menjadi ruang sosial yang membesarkannya. Perubahan kawasan membuat hubungan itu terasa semakin menjauh.

Sebagian besar hidup Pak Kelih dihabiskan sebagai pedagang burung. Ia tidak menempuh pendidikan tinggi dan mengandalkan pengalaman sebagai modal utama.

Bersama istrinya, ia membangun usaha kecil tersebut dari nol. Lapak sederhana itu menjadi tumpuan ekonomi keluarga. Dari sanalah kebutuhan hidup sehari-hari dipenuhi.

Istri Pak Kelih mulai berdagang pakan burung sejak usia 17 tahun. Seiring waktu, Pak Kelih melanjutkan usaha tersebut dengan menjual burung sekaligus pakannya.

Dari hasil berdagang itulah mereka membesarkan tiga orang anak. Pendidikan anak-anak menjadi prioritas utama keluarga. Usaha kecil itu dijalani dengan penuh kesabaran.

“Kami nggak sekolah, Mbak, jualan burung dan pakan itu yang bikin anak-anak bisa sekolah,” kata Pak Kelih. Ucapannya disampaikan tanpa keluhan. Berdagang menjadi bentuk tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.

Kerja keras dijalani demi memenuhi kebutuhan hidup. Harapan masa depan anak-anak menjadi alasan utama bertahan.

Sebelum memiliki lapak yang lebih tetap, Pak Kelih sempat berjualan di trotoar. Setiap hari ia membuka lapak sejak pukul enam pagi hingga sembilan malam. Tidak ada hari libur dalam rutinitas tersebut.

Pada masa itu, Pasar Ngasem masih ramai oleh pembeli. Bahkan, ia pernah menyewa karyawan untuk membantu berdagang.

Kondisi tersebut perlahan berubah seiring waktu, jumlah pembeli burung semakin berkurang.

Perubahan fungsi kawasan turut memengaruhi keberlangsungan usaha kecilnya. Relokasi pasar menjadi titik balik paling terasa. Sejak saat itu, kehidupan berdagang tidak lagi sama.

Penulis: Abel Elsya Pryssa

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini