BerandaSASTRASatu Hari Sebelum Akad

Satu Hari Sebelum Akad

 Satu Hari Sebelum Akad

Oleh : Yelpi Nofitri

Namaku Putri. Aku lahir dari keluarga sederhana. Tamat SMK, aku tak bisa melanjutkan kuliah seperti teman-temanku. Bukan karena tak mampu — tapi karena keadaan memaksa.

Aku harus bekerja, mencari nafkah sendiri. Merantau? Aku tak punya mental yang cukup kuat, tak punya uang, dan tak punya tempat untuk menginjakkan kaki di kota asing.

Maka aku mencari kerja di sekitar tempat tinggalku, berharap ada pintu yang terbuka.

Suatu hari aku berkunjung ke rumah Tek Ilal, yang dulu pernah menyebutkan ada lowongan kasir di sebuah pangkas rambut. “Tek, apakah masih butuh orang di tempat pangkas itu?” tanyaku penuh harap.

Tek Ilal menggeleng santai. “Sudah ada yang ambil, Put. Katanya kerabat pemiliknya.”

Hatiku ciut. Entah kenapa, aku merasa itu sekadar kata penghibur. Tapi tiga hari kemudian, kabar lain datang — orang yang diutus itu ternyata tak jadi bekerja di sana.

Tanpa pikir panjang, keesokan pagi aku berjalan menuju Pangkas Rambut Bayu, di Simpang Tiga Ophir, Simpang Limun.

Pak Zulhendri, pemiliknya, menyambutku. Tak banyak basa-basi.

“Nak, siapa namamu?”

“Putri Piliang, Pak. Panggil saja Putri.”

“Benar sedang mencari kerja, Putri?”

“Iya, Pak.”

“Gaji yang kamu harapkan berapa? Lima ratus ribu? Tujuh ratus ribu?”

“Lima ratus ribu saja, Pak. Itu sudah cukup untuk jajan sebulan,” jawabku tulus. Bagiku, uang bukan segalanya — bekerja dengan ikhlas dan membuat orang lain senang adalah hal utama.

Pak Zul tersenyum, lalu menyuruhku mulai besok. Tugasku bukan sekadar kasir — membersihkan ruangan, menyapu lantai berambut, melap kaca, mengisi botol semprotan, hingga membeli sabun cukur dan silet jika stok menipis.

Di sana bekerja tiga orang tukang cukur: Bang Afrizal, Uda Yulisman — akrab dipanggil Da Man — dan Bang Jefri.

Hari-hari berlalu damai. Aku satu-satunya perempuan di tempat itu, namun tak pernah ada kata yang kasar, tatapan yang tidak senonoh, atau lelucon yang menyakitkan. Mereka semua — lelaki yang baik.

Da Man… Dia yang paling menarik perhatianku. Tinggi, kurus, gagah, dengan mata teduh yang memancarkan kelembutan. Sudah sepuluh tahun menjadi tukang cukur, dan setiap orang yang selesai dicukur tangannya, pasti tampak lebih gagah.

Seringkali, saat dia sedang bekerja, matanya menatap pantulanku di kaca. Dan ketika tak sengaja pandangan kami bertemu, dia tak memalingkan wajah — hanya tersenyum tipis. Aku pun tersenyum balik, lalu menunduk malu.

Suatu siang, dia menyodorkan uang. “Put, belikan abang minuman rasa mangga di warung belakang, ya. Ini uangnya.”

“Siap, Da Man.”

Setiap hari pangkas itu ramai, terutama karena Da Man. Pelanggan rela antre hanya untuk dicukur olehnya. Kadang saat dia sibuk melayani pelanggan lama, dia menyuruhku memesan roti bakar, ambil uang dari kotak kasir, nanti dipotong dari gajinya.

Aku membeli roti selai stroberi, memakannya sendiri sambil duduk menunggunya selesai, memandangnya diam-diam.

Dia pernah memberikan mainan berbentuk boneka. “Ini untuk keponakan abang, Put. Simpan dulu ya.” Atau ajakanku berfoto di Simpang Ampek.

“Kita berfoto saja, biar punya kenang-kenangan.” Aku menolak, malu — padahal hatiku berdebar kencang.

Enam bulan berlalu. Tak ada kata pacaran, tak ada janji manis. Namun setiap malam, Da Man bercerita tentangku kepada teman dan saudaranya. Diam-diam, dia menjatuhkan hati. Dan ketika akhirnya dia melamar, kedua keluarga merestui. Semua sepakat.

Aku pun mulai menyusun mimpi — meski harus menguburkan keinginan kuliah dan menjadi guru Bahasa Inggris, aku bahagia. Aku akan menjadi istrinya, membangun rumah tangga sederhana. Undangan tersebar. Pesta siap. Hanya tinggal satu malam lagi menuju akad

 Satu Malam Sebelum Akad

Malam itu, langit tampak gelap. Jam delapan malam, Da Man belum datang. Jam sepuluh… tengah malam… ia tak kunjung muncul.

Keluarga, tetangga — Pak Idin, Ayah, dan beberapa pemuda kampung — menyebar mencari ke mana-mana. Semak belukar, jalan setapak, tempat biasa ia lewati.

Namun tak ada jejak. Pukul dua dini hari, mereka pulang dengan wajah lesu. Da Man hilang.

Aku menangis di pelukan Ibu. “Ke mana Da Man, Bu?” Ibu hanya diam, tak sanggup menjawab.

Keesokan harinya, hari pernikahan itu tetap berlangsung. Aku berdiri di pelaminan — sendirian. Tanpa pengantin pria. Di hadapan tamu, aku tersenyum.

Bukan tak sedih, tapi aku tahu: ini adalah takdir-Nya. Aku bersalaman dengan tamu, menyambut mereka dengan wajah tenang, meski hati hancur berkeping-keping.

Delapan belas hari kemudian…

Seorang warga yang sedang membersihkan daun kering di rimbo Ketek, Desa Kapunduang, tak jauh dari Kinali, menemukan sesuatu. Di balik semak-semak, terbaring tubuh Da Man.

Tangannya masih menggenggam HP jadul. Di sakunya, dompet — dan di dalamnya, foto diriku. Dia mengenakan kaos cokelat dan celana pendek di bawah lutut.

Luka memar di tubuhnya, seolah pernah terseret. Mayatnya sudah membusuk. Warga menaburkan bubuk kopi agar baunya tak terlalu menyengat.

Aku datang melihatnya untuk terakhir kali. Lelaki yang seharusnya menjadi suamiku, kini terbaring diam, tak lagi bisa tersenyum padaku.

Aku menangis, tapi tak hancur. Di usia dua puluh satu tahun, Allah memberiku ujian terberat sekaligus kekuatan untuk melewatinya. Aku tak pernah menikah — tapi aku tak menyerah pada hidup.

Rumah yang disiapkan untuk kami berdua, aku tempati sendiri. Dan kenangan tentang Da Man, lelaki yang mencintaiku dengan tulus dan sederhana, tersimpan rapi di dalam hatiku — selamanya.

“Bukan karena aku tak mencintainya. Tapi karena aku percaya, Dia yang mengambilnya, tahu lebih baik apa yang terbaik untukku.”

Selesai.

Google News

Related News

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini