BENGKAYANG | mikanews — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Bengkayang mendapat perhatian langsung dari Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI). Tim Pantau dan Penyuluhan Karhutla turun ke sejumlah wilayah pada 3–4 September 2026 untuk mengajak warga menghentikan sementara pembukaan lahan dengan cara dibakar.
Langkah tersebut dilakukan di tengah kondisi cuaca panas berkepanjangan yang disebut berdampak pada meningkatnya risiko kebakaran. Tim tidak hanya menyampaikan imbauan, tetapi juga berdialog langsung dengan masyarakat di tingkat desa.
Di bawah kendali Kodim 1209/Bengkayang, sebanyak 22 personel diterjunkan untuk menjalankan sosialisasi dan edukasi pencegahan Karhutla. Pendekatan yang digunakan bersifat persuasif dengan menekankan kesadaran warga dan kesiapsiagaan mendeteksi titik api sejak dini.
Tim dipimpin Brigjen Togu Parmonangan sebagai ketua dan Brigjen Suryadi Syamsir sebagai wakil ketua. Untuk wilayah kerja Koramil 01/Bengkayang, kegiatan dipimpin Kolonel CBA Eko Siswanto.
Penyuluhan perdana berlangsung Kamis, 3 September 2026, di Dusun Semuhun, Desa Dharma Bhakti, Kecamatan Teriak. Sosialisasi juga menyasar desa sekitar, termasuk Sebetung Menyala dan Malo Jelayan.
Dalam dialog bersama warga, Brigjen Suryadi Syamsir menekankan bahwa pencegahan Karhutla tidak dapat hanya mengandalkan petugas. Kesadaran masyarakat menjadi bagian penting untuk mencegah munculnya titik api.
Ia meminta warga menghentikan sementara pembukaan lahan dengan cara dibakar selama kondisi cuaca sangat kering.
Menurut Suryadi, kebakaran lahan dapat menimbulkan dampak yang lebih luas daripada sekadar kerusakan lingkungan. Asap kebakaran dapat mengganggu kualitas udara, aktivitas pendidikan, penerbangan, hingga perekonomian masyarakat.
“Saya mengimbau dengan sungguh-sungguh: mari kita sama-sama menjaga agar tidak muncul titik api di sekitar kita,” ujar Brigjen Suryadi di hadapan warga.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi panas berkepanjangan membuat material di sekitar lahan lebih mudah terbakar.
“Mari kita berhenti sementara cara membuka lahan dengan dibakar, supaya udara kembali bersih dan sehat untuk kita semua,” katanya.
Kolonel CBA Eko Siswanto menyampaikan pesan serupa. Ia menegaskan bahwa dampak kebakaran dan asap tidak berhenti pada lokasi tempat api muncul.
Menurutnya, masyarakat di wilayah lain tetap dapat merasakan dampak kabut asap meskipun kebakaran tidak terjadi tepat di sekitar permukiman mereka.
“Kita sudah merasakan sendiri: udara semakin buruk, napas terasa berat. Jika kita terus membakar lahan, kondisi ini hanya akan makin parah,” kata Kolonel Eko.
Ia mengajak warga menjaga lingkungan masing-masing agar potensi kerusakan akibat kebakaran tidak semakin meluas.
Pendekatan dialog yang dilakukan tim mendapat respons positif dari masyarakat. Anderias Heriyanto, warga setempat yang menerima tim di kebunnya, menilai edukasi langsung lebih mudah diterima karena warga diajak memahami alasan pencegahan.
“Kami sangat setuju dan mendukung. Cara ini lebih manusiawi, lebih mengajak kita sadar sendiri,” ujar Anderias.
Dukungan juga disampaikan Kepala Desa Dharma Bhakti, Jelly Naswadi. Pemerintah desa disebut telah menyiapkan langkah pencegahan jangka panjang melalui pengaktifan posko pemantauan Karhutla.
Desa juga merencanakan pembangunan sumber air dari sumur bor untuk mendukung pengendalian api apabila terjadi kebakaran.
“Kami sepenuhnya mendukung program ini. Posko Karhutla desa sudah beroperasi, kami juga terus menyosialisasikan ke warga di segala kesempatan,” kata Jelly.
Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Kabupaten Bengkayang turut menyatakan dukungan. Ketua SPKS Bengkayang, Heru Kamaruzzaman, mengatakan kondisi udara saat ini sudah memprihatinkan sehingga praktik pembakaran lahan perlu dihentikan sementara.
Heru menyatakan pihaknya akan menyampaikan pesan pencegahan tersebut kepada anggota SPKS di Bengkayang.
“Kami akan menyosialisasikan dan mengajak seluruh petani kami berhenti sementara cara pembakaran, serta ikut membantu mencegah dan menangani dini jika ada potensi kebakaran,” tegas Heru.
Kegiatan tim Mabes TNI berlanjut pada Jumat, 4 September 2026, ke wilayah Koramil 07/Jagoi Babang dan sejumlah daerah lainnya. Kegiatan tersebut dipimpin langsung Brigjen Togu Parmonangan.
Sosialisasi dilakukan di sejumlah lokasi yang dekat dengan aktivitas masyarakat. Lokasinya mencakup kebun sawit, ladang pertanian, tempat ibadah, serta ruang pertemuan umum.
Pola tersebut dilakukan agar pesan pencegahan Karhutla tidak berhenti di tingkat pemerintahan, tetapi langsung diterima masyarakat yang beraktivitas di lapangan.
Di akhir kegiatan, tim juga membagikan paket kebutuhan pokok kepada perwakilan warga yang hadir.
Turunnya langsung tim Mabes TNI ke sejumlah wilayah Bengkayang menunjukkan bahwa pencegahan Karhutla tidak hanya diarahkan pada penanganan ketika api sudah muncul.
Edukasi kepada masyarakat dan penghentian sementara pembukaan lahan dengan cara dibakar menjadi pesan utama yang disampaikan selama kegiatan 3–4 September 2026. (Red)





