Nafas Nagari di Atas Jembatan yang Merana
Di atas beton yang mulai rapuh
di atas besi yang lapuk dimakan waktu
berdiri nafas transportasi Nagari kami
berteriak lantang—namun hanya terdengar dalam diam
Satu jembatan di tengah Nagari
telah bertahun-tahun ambruk menanti
janji tertulis rapi di atas kertas
hanya menjadi buih, tak kunjung menjelma nyata
Kami bahu-membahu, mengerahkan tenaga sendiri
memperbaiki sekuat kemampuan yang ada
namun tanpa beton yang kokoh, tanpa besi yang kuat
bagaimana kami memelihara nyawa penghubung ini?
Dan kini duka datang lagi
jembatan di ujung Nagari ikut retak dan longsor
air di bawahnya bergemuruh penuh ancaman
wajah warga dipenuhi cemas dan air mata
Haruskah kami menanti hingga semuanya lumpuh?
Haruskah menanti korban jatuh dulu
baru tangan pengambil keputusan tergerak?
Ini bukan sekadar susunan batu dan baja
ini adalah denyut nadi ekonomi
ini jalan harapan petani dan pedagang
ini masa depan langkah anak-anak kami
Kami tak meminta kemewahan berlebih
hanya hak dasar: fasilitas yang aman untuk hidup
agar kami bisa berdiri tegak, bukan terus menunduk cemas
Sebelum nasi menjadi bubur, sebelum air mata bercampur darah
dengarlah jeritan dalam bisu kami
perhatikanlah Nagari yang hampir terlupakan
sebelum penghubung terakhir kami benar-benar runtuh selamanya
Lihatlah kami, Pemimpin kami!
Ini nafas Nagari—jangan biarkan ia berhenti bernapas.
By, ZOELNASTI




